Selasa, 16 Juni 2015

Memaknai Lagu “Ojo Ngece”

Suatu kali saya mendengar sebuah lagu yang kebetulan saya belum pernah mendengarkannya. Ya, lagu itu dinyanyikan dengan mesra oleh sekumpulan pengamen jalanan dalam bus kota ketika saya menuju kampung halaman. Memang terkadang musisi jalanan menyanyikan lagu-lagu yang tujuannya baik dan menyadarkan pendengarnya dengan pesan-pesan yang mengalir. Itulah teladan musisi jalanan yang menurut saya keren dan ini adalah salah satu yang akan saya ceritakan di tulisan ini.
Judul lagu yang dibawakan adalah “Ojo Ngece” pada waktu itu. Dalam Bahasa Indonesia berarti “Jangan Menghina”. Bagi yang paham Bahasa Jawa, sekilas jika mendengar kata tersebut maka sudah barang tentu berisi petuah yang mengajak pendengar untuk tidak saling mengejek/menghina. Nada yang dihasilkan dari lagu tersebut adalah pop-rap-JawaHipHop karena diiringi oleh suara alunan gitar, kencrung, dan tabung pipa yang bisa ditabuh.
Yang saya suka dari lagu ini yaitu keindahan liriknya yang ditulis dengan disisipi parikan Jawa (pantun Jawa). Berikut lirik dan penjelasan yang saya peroleh ketika mendengarkan lagu tersebut.


Ojo ngece karo wong ora nduwe
Rojo brono yen mati ora digowo
Bebasan urip mung mampir ngombe
Ngono kui jare bini sepuh kae
Bait ini mengandung maksud bahwa sebagai manusia yang memiliki rasa toleransi, janganlah menghina kepada orang yang tidak punya (serba kekurangan). Karena pada dasarnya keburukan/kejelekan seseorang itu ketika meninggal tidak akan dibawa sebagai amalan. Kita tentu tahu jika kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan di akhirat adalah kekal. Petuah tersebut seringkali kita dapati dari perkataan bijak orang tua kita, termasuk guru-guru kita. Maka dari itu, marilah kita bersama saling menghargai kepada semua orang, siapapun itu, seburuk apa pun mereka.
Numpak sepur asep’e metu nduwur
Tiwas ajur mumur yen awak ora diatur
Nek numpak motor asep’e metu ngisor
Urip neng alam ndonyo kudu sugih andhap asor
Bait ini mengajak kita untuk selalu menata diri, baik untuk diri sendiri maupun dalam pergaulan. Menata diri yang dimaksud adalah bisa menempatkan diri di mana pun kita berada. Ada saatnya kita menahan ego kita, tetapi ada juga saatnya kita melepas ego kita. Perasaan dan temperamen orang berbeda-beda, maka akan lebih baik jika kita saling pengertian (andhap asor). Ibaratnya jika kita ingin dihormati dan dimengerti orang lain, mulailah dari diri sendiri.
Nek numpak becak asepe metu tengah
Ojo ngguyu ngakak yen urip lagi kepenak
Nek numpak andong asep e metu bokong
Ojo banter-banter ngko mundak koyo grandong
Bait ini mengungkapkan makna kepada kita semua untuk tidak bersikap sombong ketika sedang mendapatkan kebahagiaan/nikmat. Berbagilah kepada mereka yang sedang ditimpa musibah/kekurangan. Janganlah menganggap remeh mereka yang memiliki keterbatasan. Bukankah kita hidup agar bisa diterima semua orang dan bukan jadi sosok yang ditakuti seperti ‘grandong’?
Dadi wong ojo rumongso biso
Nanging uwong sing biso rumongso
Wong sik becik sing keno kebecikane
Mulo kui jarene simbahku dewe
Bait ini memberi pelajaran kepada kita sekalian bahwa jadilah manusia yang tidak sok tahu, tetapi berusaha untuk tahu sesuatu yang benar-benar tidak diketahui. Tentu seringkali kita mendapati kesan seseorang yang bertindak sok tahu, namun pada akhirnya dia membuat kesalahan yang fatal. Melihat itu semua, maka akan lebih baik jika kita bertindak baik dan jujur. Kebaikan dan kejujuran seseorang itulah yang akan membangun citra seseorang yang ‘sok tahu’ dan ‘benar-benar tahu’.
Rujak nanas pantes’e wadahi gelas
Tiwas adem panas sik digagas ora waras
Nek rujak dondong pantese wadahi lodong
Ojo plenggang plenggong mengko mundak koyo grandong
Bait di atas mempunyai makna bahwa sebagai manusia yang bijak, janganlah kita plin plan dalam menilai suatu hal. Pikirkan baik-baik keputusan kita dengan memandang perasaan orang lain. Membuat orang lain tak enak hati bukanlah pilihan yang tepat jika kita masih benar-benar menggunakan akal sehat (waras). Orang yang plin plan disini diibaratkan seperti ‘grandong’ yang mempunyai penampilan serba tidak jelas.
nek rujak mayit lalapane rumah sakit
bingung golek duit ngurusi barang gejepit
Bait di atas merupakan bagian reff dari lagu ‘Ojo Ngece’ ini, memberikan nasehat kepada pendengar bahwa orang-orang yang tidak punya pekerjaan terpaksa harus menjual barang-barang bekas. Kita yang sudah mempunyai pekerjaan dengan gaji yang sedikit saja, terkadang lupa bersyukur. Lihatlah mereka yang masih belum diberi kesempatan untuk bekerja, yang mana harus menghidupi penghidupannya sekarang dan kelak.
Dadio wong sing becik
Ojo do sirik
Opo opo marai mangkel
Mengko, malah koe dadi nggrundel
Tiwas ngalah malah podo ngeyel
Bait di atas memberi pelajaran kita semua agar selalu menjadi orang yang baik dan berprasangka baik. Pantang menjadi orang yang syirik dan membuat kesal orang lain, agar terhindar dari perasaan dengki dan dendam. Hidup pastilah tak akan nyaman jika perasaan kita terus menerus dibayangi kekecewaan. Ingat, semua pasti ada jalan keluarnya, selesaikan dengan perlahan-lahan dengan saling mengalah. Keterbukaan hati dan pikiran akan mencairkan hati yang bergejolak.
Mulane kowe manuto wong tuo
Ojo pisan pisan koe neko-neko
Jaman saiki sithik-sithik metu ragat
Urip’e ora tentrem malah kowe dadi jepat
Bait di atas berisi pembelajaran yang seringkali diberikan oleh orang tua kita. Selalu menurut kepada perkataan dan kehendak orang tua, menyikapi segalanya dengan bijak, serta tidak bertingkah yang dapat mengecewakan orang tua. Terlebih bagi kita yang statusnya masih menjadi anak asuh, dimana semua kebutuhannya orang tua kitalah yang menanggung. Semua membutuhkan modal yang diperoleh dari kerja keras orang tua. Jangan sampai hidup kita tidak bahagia hanya karena perbuatan konyol yang seharusnya tidak kita lakukan.
Mulakno mulakno, rasah do ngeyel
Tuwo-tuwo le ngandani angel
Bola bali bola bali kowe nglarani ati
Wong tuwomu kegowo ati
Ngalor ngidul ngulon wetan
Aku wis kenthir
Ora iso mikir
Kiwo kiwo
Kluer kluer
Bait di atas sejatinya ditujukan untuk mereka yang sudah keterlaluan telah mengecewakan orang tuanya. Ingatlah, jika kita durhaka kepada orang tua, keburukannya akan kembali kepada kita sendiri. Orang tua tentu tidak akan terima jika anaknya melakukan perbuatan yang mencemari nama orang tuanya. Orang tua yang telah menghidupi, mendidik, dan mengayomi kita dari lahir hingga sekarang seakan tidak berguna. Padahal, seburuk apapun anak seseorang, orang tua pasti tak akan pernah melupakannya. Semua beban batin akan selalu ditanggung sehidup semati. Marilah kita perbaiki cara berpikir dan sikap kita dalam memahami perasaan orang tua kita.
Semoga tulisan-tulisan di atas bisa menginspirasi kita semua. Tidak ada yang tidak baik sejauh kita bisa memahami lingkungan sekitar kita dengan berbaik sangka (positive thinking). :cendol
"Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu"