Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2015

Luru ilmu - Kanjeng Sunan - Zainul Arifin

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiVqsLkxUkTFi2z5XzTxH6SFV4XJOkFlAtAW71UubkMbR2p2HZ3Pp43bR9YZ7DzRjIGxHsG8lVekJ2P3nhEyCCTSrmGMpQn3JYgnI0XJif3yY6Ifzey5d6XCMoTelOI7MVk7gfk6oitw/s1600/Luru-Ilmu+copy.png 

#Wajib Ain Lanang Wadon luru ilmu  
(wajib ain bagi laki-laki dan perempuan untuk menuntut ilmu)
ojo leren yen durung ilang bodhomu
(jangan berhenti jika belum hilang kebodohanmu)

Ilmu iku ayune koyok widodari
(ilmu itu cantik bagaikan bidadari)

kulit moyok-moyok koyok don suwari
(...)

yen dicatur brantane tan mari-mari
(...)

yen diturut munggah suwargo mbukak qori
(...)

#Nanging wongkang loro kumprung atine picak,
(Tapi orang yang berpenyakit tolol, hatinya buta)

marang ilmu dulur, ora doyan ora enak
(kepada ilmu tidak doyan, tidak merasa enak)

ing maksiyat koyo mangan sego rujak
(pada maksiat seperti makan nasi rujak)

wong iku dulur wong ciloko,
(orang itu wahai saudaraku, adalah orang yang celaka)

ing akhirat sido bakal nemu rusak
(di akhirat akan menemui kerusakan

mugi Allah paring pangapuro ingatase duso kulo lan dusone tiyang sepah kulo sedoyo
(semoga Allah memberi pengampunan atas kita dan orang tua kita semua)


Mohon terjemahkan yang kosong.. bagi Anda yang ahli bahasa jawa
terima kasih


Senin, 17 Agustus 2015

Ojo Sembrono - Akhlis Suryapati feat Santri Pesisir

http://www.indonesianfilmcenter.com/images/profile/00f7ad5a917d5af02413.jpg 
La ilaha illallah al malikul haqqul mubin 
Muhammadur rosulullah 
Shodiqul wa"dil amin

Ojo podo sembrono
Kowe urip ono dunyo
Malaikat juru pati
lirak lirik ngincer siro
lirikane malaikat arep nyabut nyowo iro

Le nyabut angenteni dawuhe kang Moho Mulyo

Ojo podo sembrono
Mentang-mentang lagi kuoso
Tembe mburi bakal ciloko
Amergo kokean duso
Dosamu rakiro-kiro
Gawe rakyat kabeh sengsoro
Mengko bakale kesikso ono dunyo lan neroko
 
Ojo podo sembrono
Ngaku-ngaku wakile rakyat
Liyo dino mesti kualat
Yen kowe tansah khianat
Khianatmu sak arat-arat
Kabeh rakyat dadi melarat
Sak durunge menyang akhirat
Luweh becik cepeto tobat



La ilaha illallah al malikul haqqul mubin 
Muhammadur rosulullah 
Shodiqul wa"dil amin

La ilaha illallah al malikul haqqul mubin 
Muhammadur rosulullah 
Shodiqul wa"dil amin







Kamis, 11 Juni 2015

Dhandhanggula Sidoasih

Syair
Pamintaku nimas sidoasih
Anut runtut tansah reruntungan
Ing sarino saharine
Datan ginggang sarambut
Lamun adoh caketing ati
Yen cedak tansah mulat
Yidoasih tuhu
Kadyo mimi lan mintuno,ayo bareng nimas anglakoni wajib, sidoasih bebrayan.


Saduran:
Permintaanku wahai kekasih
Selalu bersama-sama
Di ruang dan waktu
Tak berjarak meski cuma sehelai rambut
Kalau jauh dekat di hati
Kalau dekat berpandangan
Begitu sejatinya asmara
Seperti mimi dan mintuno
Ayo bersama melakukan panggilan sosial
Cinta kita berdua tak bermakna jika tak menjalarkan cinta pada sesama

Jumat, 05 Juni 2015

Kudekap Kusayang sayang


 
Kepadamu kekasih kupersembahkan segala api keperihan 
di dadaku ini demi cintaku kepada semua manusia 
Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan diri dalam hidup 
demi mempertahankan kemesraan rahasia, 
yang teramat menyakitkan ini, 
denganmu Terima kasih engkau telah pilihkan 
bagiku rumah persemayaman dalam jiwa remuk redam hamba-hambamu 
Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, 
dan ketika mereka tancapkan pisau ke dadaku, 
mengucur darah dari mereka sendiri, 
sehingga bersegera aku mengusapnya, 
kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku 
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang, 
kupeluk, kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan lagi pisau ke punggungku, 
sehingga mengucur lagi darah batinnya, 
sehingga aku bersegera mengusapnya, kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap, kusayang-sayang. 

1994 
#EAN

Selasa, 26 Mei 2015

Sudah Bukan Diriku

Kalau aku sudah bukan diriku
Akankah lahir anakku yang berasal dari dirinya
Kalau manusia sudah tak sepenuhnya manusia
Adakah cara agar penerusnya kembali manusia

Kalau aku sudah hilang
Karena diriku digantikan
Oleh diri seragam produksi massal
Yang mana dari nilai-nilai yang masih mungkin tertinggal

Bangsaku sudah bukan bangsaku
Bangsaku bukan bangsa yang tumbuh
dari dalam diri kebangsaannya
Bangsaku hanya bahan dasar alam
Sebagaimana batubara yang ditambang
Dicetak oleh industri globalisasi
Dijadikan plastik dan robot barang dagangan
Pemerintahku adalah anjing herder
Pikirannya dikendalikan oleh stick holder

Merahkah ini hijaukah itu
Baikkah ini burukkah itu
Ditentukan tidak berdasar nurani dan akalmu
Karena sudah ada paket makro untuk itu

Mana maju mana mundur
Apa yang mulia apa yang hina
Siapa Nabi siapa teroris
Bukan hak kemanusiaanmu untuk menentukan

Bumi mengecil seukuran bola golf
Diambil dipukul diambil dibuang atau dikeranjang-sampahkan
Bangsaku terdaftar sebagai pelacur unggul tergolek di ranjang
Disetubuhi kapan saja Mr. Global Stick Holder menghendaki

Sekujur badan disemprot parfum demokrasi
Dihibur dengan lagu dusta tentang hak asasi
Mata dipejamkan ditiup dengan hawa toleransi
Mulut dingangakan, siap dituangi sperma globalisasi
Tetapi bangsaku tak kehilangan dirinya
Karena generasi yang ini sejak lahir memang sudah bukan dirinya

Hujan turun terlalu deras
Hujan ludah dan air liur para raksasa
Manusia dan negara dipersatukan oleh banjir
Dunia menyempit, menjadi sebuah bendungan

Bendungan itu
Bernama globalisasi
Hujan turun terlalu deras
Banjir global masuk sampai ke kamar pribadi
Menelusup sampai ke ulu hati
Bahkan otak sampai terbungkus oleh kerak tahi besi

Di manakah, dalam banjir itu, manusiamu?

Tak ada kegelisahan apapun atas hilangnya diri
Tak ada ketakjuban atas punahnya nilai

Apakah wajah yang kau temukan di kaca itu
benar wajah manusia

Sebab pada semuanya yang lebih menonjol
adalah tanda-tanda kehewanan
Yang lebih rajin muncul
adalah indikator kebinatangan
politik keserakahan
mobilisasi pelampiasan
ekonomi keborosan
globalisasi pemusnahan kemanusiaan
peruntuhan nilai-nilai batin
seluruh permukaan bumi sedang dirancang
menjadi hamparan lapangan golf
di mana para juragan global dengan stik-stik mewah
membidik dan melempar bola-bola golf
yang terbuat dari kepala-kepala manusia

Dan kalau engkau bertanya tentang aku
dengarlah pertanyaanmu itu kujawab
dengan penuh kebanggaan:
Aku adalah setan!
Aku adalah setan, yang riwayatku
ditulis oleh Tuhan sendiri di kitab suciNya
bahwa puncak sikapku adalah pernyataan suci
bahwa sesungguhnya aku takut kepada Allah
Apakah manusia takut kepada Tuhan?
Apakah bagi manusia, Tuhan cukup penting?
Tuhan tergeletak di belakang tumit setiap orang
Tuhan bukan subyek yang disertakan
dalam proses pengambilan keputusan

Kalau bangsa ini semakin tak memenuhi syarat untuk disebut bangsa
Kalau manusia kita semakin tak pantas disebut manusia
Adakah cara agar penerus kita kembali manusia?

(Emha Ainun Nadjib)

Selasa, 28 April 2015

Kafir Politis

 • 

Misalnya begini: sepanjang seseorang masih mandi dan makan tiap hari, maka ia tak bisa disebut sebagai kafir dalam arti total. Orang mandi, ightisal alias membersihkan diri sendiri, berarti melaksanakan amanat atau perintah Allah untuk menjaga kebersihan badan. Bahwa di luar itu otaknya, perilakunya, perusahaan atau jabatannya, belum di-ghusl atau belum dibersihkan — di situlah barangkali letak fungsi kufurnya. Tetapi tindakan memandikan badan sendiri itu adalah pekerjaan kemusliman.
Demikian juga sepanjang orang masih makan dan minum, maka ia masih memiliki eksistensi kemusliman, karena makan dan minum adalah memenuhi kehendak Tuhan agar hamba-hamba-Nya bersetia kepada kehidupan, antara lain dengan menjaga kesehatan.
Jadi menurut cara berpikir ini, hampir tak ada orang yang seratus persen dikategorikan sebagai orang kafir. Apalagi orang yang meskipun tidak bersyahadat, tidak melakukan shalat, puasa, zakat, dan haji; biasanya masih berbuat baik kepada anak istrinya, mencintai mereka, mencarikan nafkah, dan sebagainya.
Maka tidak bisa saya bayangkan bahwa ada orang yang sehari-harinya masih mandi, makan, menafkahi keluarganya, bertetangga baik-baik dan santun kepada orang banyak — bisa pada suatu sore kita tuding sebagai kafir, lantas kita halalkan darahnya, atau minimal kita personanongrata-kan dan kita kucilkan.
Dalam konteks keilahian dan keagamaan saja pun tak bisa saya bayangkan terjadi pengkafiran semacam itu. Apalagi dalam konteks yang lebih duniawi dan pada tataran yang lebih lemah dan relatif kriteria nilai-nilainya — umpamanya dunia politik.
Kalau mulut kekuasaan politik di suatu Negara menuding seseorang “Kamu tidak bersih lingkungan”, di kepala saya muncul berjilid-jilid buku yang menguraikan beribu-ribu pertanyaan dan kegelisahan. Dari pertanyaan dan kegelisahan yang berkonteks politik praktis, keanehan budaya kekuasaan, sampai yang berkonteks filosofis, etimologis, atau bahkan ideologis dan teologis.
Di dalam perspektif nilai akidah dan hukum agama saja pun term “kafir”, “musyrik”, “munafik”, “muslim” atau “mukmin”, tetap terbatasnya maknanya oleh konteks-konteks dalam ruang dan waktu, di mana suatu peristiwa dan perilaku berlangsung. Kalau ada pedagang agama Isalam menipu pembeli beragama Budha, tidak bisa kita katakana “orang muslim menipu orang kafir”. Perbuatan menipu itu adalah kekufuran, sehingga tidak bisa membuat kita mengatakan bahwa dalam kasus penipuan itu si penipu adalah muslim. Kalau seseorang menipu, maka dalam dunia ruang dan waktu penipuan itu si penipu adalah kafir.
Maka sesungguhnya kalau kita berpikir jujur, di dalam kehidupan sosial masyarakat kita, kata “kafir”, “muslim”, “munafik”, “musyrik”, dan seterusnya itu selama berabad-abad mengalami pengorbanan-pengorbanan yang sungguh-sungguh tidak kecil dan tidak sepele. Mengalami distorsi, pembiasan, pembelokan, bahkan pembalikan arti. Dan kalau pembangkangan makna sebiji kata itu berada di genggaman tangan seseorang atau sekelompok manusia yang memiliki kekuasaan tak terbatas — memiliki ribuan senapan dan prajurit — maka peristiwa-peristiwa besar sejarah yang tragis berlangsung berdasarkan sulutan yang sebenarnya amat sepele.
Ratusan ribu orang bisa tertumpas nyawanya berkat satu kata yang dipelesetkan maknanya. Puluhan ribu orang terpuruk nasibnya ke dalam kegelapan ekonomi dan politik, hanya oleh pembiasan kata “pembangunan” misalnya. Jutaan lainnya bisa kehilangan tanah, kehilangan sawah, kehilangan nafkah, kehilangan kios jualan, kehlangan pekerjaan, kehilangan lingkungan pergaulan, atau bahkan meringkuk di dalam sel-sel sempit berdinding batu tebal dingin — hanya oleh pembangkangan sekelompok manusia terhadap perjanjian murni arti sebuah kata.
Jika pemelesetan makna kata itu sekadar merupakan kasus kebodohan, maka kita hanya bersedih dan menangis. Tetapi kalau pemelesetan itu justru disadari — bahkan didayagunakan untuk rekayasa-rekayasa kekuasaan — maka mungkin seseorang akan hanya menghadapi dua kemungkinan. Pertama, diam, menyerah, dan hancur. Kedua,  berang, marah, melawan, dan mati.
Jadi, secara keseluruhan kita sedang berhadapan dengan tiga masalah besar. Pertama, siapakah atau pihak manakah di dalam sejarah, yang disepakati sebagai berwenang untuk menentukan makna sebuah kata? Kedua, dalam sebuah sistem politik yang berlaku, adalah institusi hukum atau lembaga kebudayaan yang memiliki otoritas dan kewibawaan untuk mengontrol subyektivisme kekuasaan yang seringkali memaknakan kata “bersih”, “PKI”, “balela”, “subversif”, dan seterusnya seenaknya sendiri dari sudut kepentingan kelompoknya — yang apalagi dibungkus di dalam jargon kepentingan umum? Ketiga, berapa dekade sejarah diperlukan untuk menyembuhkan situasi di mana — setidaknya sebagian — kekuasaan yang melakukan pembangkangan kata itu justru secara mantab dan kusyuk merasa bahwa yang dilakukannya itulah paling benar?
Ataukah pertanyaan-pertanyaan semacam yang saya ajukan ini justru dianggap sebagai “cacat politik” atau bahkan “kafir politis”?

sumur : https://www.caknun.com/

Catatan Kecil dari Sinau Kedaulatan

caknunprayfull
Ada catatan kecil dari pergelaran Sinau Kedaulatan bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Universitas Diponegoro, Semarang, tanggal 15 April 2015 lalu. Catatan ini bisa jadi tidak penting. Tapi bisa jadi penting juga. Tidak penting karena sebenarnya itu kejadian yang biasa saja, sangat lazim terjadi dalam kultur masyarakat kita. Namun menjadi penting karena kami ingin menyandingkan untuk lalu membandingkannya dengan pemberitaan media yang, menurut kami, lebay.
Pergelaran berlangsung di Auditoriom Soedarto, indoor dan diselimuti penyejuk ruangan. Nyaris semua personil Kiai Kanjeng dan Cak Nun sendiri adalah perokok, bisa dibilang lumayan berat. Tapi pergelaran yang berlangsung berjam-jam itu berlangsung tanpa satu personil pun yang merokok di panggung.
Seperti ditulis oleh Rusdi Mathari di blognya, Cak Nun beberapa kali ke belakang panggung untuk merokok. Begitu pun dengan para personil Kiai Kanjeng. Mereka menghormati hadirin dan siapapun yang berada di situ yang tidak merokok. Kalau mereka ingin merokok, ya ke belakang panggung.
Kami kemudian teringat pemberitaan tentang perokok penumpang KRL yang diingatkan satpam. Dia marah, lalu memukuli si satpam. Beritanya lumayan heboh. Ahok, gubernur DKI yang sangat sibuk itu pun sampai menyempatkan diri ikut berkomentar. Perokok di Indonesia sudah dalam taraf candu sehingga mereka akan lebih galak daripada pihak yang menegur, begitu Ahok.
Kami tidak ingin menganalisa yang rumit-rumit, toh sebenarnya akal sehat kita sudah bisa menilai. Kami hanya ingin menyegarkan kembali ingatan kita pada tanyangan Kick Andy tentang Gus Mus. Waktu itu Gus Mus ditanya, “Sesudah Gus Dur meninggal banyak orang khawatir pluralisme di Indonesia terancam, akibatnya dikhawatirkan juga akan muncul banyak konflik, dan ujungnya Indonesia bercerai-berai. Apakah kekhawtiran itu berlebihan?”
Gus Mus menjawab, “Saya kira berlebihan, tetapi bisa beralasan juga.” Dia menjelaskan lebih lanjut, Gus Dur yang kelihatan muncul di permukaan, sehingga ketika tidak ada Gus Dur seperti tidak ada, tidak kelihatan. Padalah yang seperti Gus Dur banyak sekali di Indonesia ini. Di desa-desa juga masih biasa saja, pergaulan dengan sesama bangsa biasa saja. “Cuma orang itu yang dilihat kota saja,” kata Gus Mus.
Akan lebih banyak, jauh lebih banyak, orang yang masih tetap ingin ber-Bhinneka Tunggal Ika dibanding yang tidak. “Pers kan tidak pernah menayangkan orang-orang di desa, misalnya mereka berdoa bersama, segala agama, kadang di klenteng, kadang di masjid, kadang di gereja, kadang dimana-mana,” tegasnya



sumur : http://komunitaskretek.or.id/editorial/

Kesunyian Pohon Keabadian

15396_862694350462317_204247202845884477_n
Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
(Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin baru)
Langit gelap, tiada satu pun bintang di langit. Hanya baling-baling berlampu warna-warni milik para pedagang atau anak-anak petani yang sesekali meluncur di udara. Setelah sampai puncaknya, baling-baling itu mengikuti tarikan daya gravitasi bumi, berputar perlahan-lahan, menghiasi langit dan sebentar menggugah kegembiraan, lalu tergeletak di tanah.
Sesekali pula baling-baling turun bersama gerimis yang masih jatuh di sini, di alun-alun Temanggung. Tapi gerimis jatuh pada malam 3 April 2015 itu merupakan gerimis di ujung musim penghujan.
Suara tongkeret telah bernyanyian dan pranatamangsa dari alam sudah memberi petunjuk musim kemarau segera datang. Tanda bagi petani di Temanggung untuk menanam tembakau.
Semakin banyak orang merapat, samakin banyak tikar-tikar dihamparkan. Hanya segelintir saja yang berdiri dan masih menggunakan payung,  dan itu di bagian paling jauh dari panggung, barangkali agar mereka dapat melihat panggung secara lebih leluasa.
Lagu “Lir-ilir” gubahan Sunan Kalijaga yang dinyanyikan Kiai Kanjeng membuka acara selamatan jelang musim tanam tembakau. “Semoga musim bagus, semoga harga bagus, dan kesejahteraan mengalir ke rumah-rumah petani,” begitu suara terdengar dari pengeras suara.
Sing ana nang kene cuma atimu karo Gusti Allah… omahmu tinggalen sik, utang-utang tinggalen sik,” kata Emha Ainun Najib (Cak Nun) yang berada di panggung, yang tak ingin menjadi pusat perhatian. Kemudian ia menambahkan, “ojo delok aku, eling Gusti Allah, eling Rasullulah, sing jaga koe, sing jaga tanah-tanahmu.”
Di depan layar raksasa, di sisi sebelah kiri panggung, terlihat seorang ibu berkerudung duduk bersila di atas tikar dengan tiga orang anak kecil. Mereka saling merapat supaya bisa saling menghangatkan, dan menatap layar yang menampilkan keadaan di panggung secara langsung.
Wajah-wajah tertunduk, tangan-tangan kekar oleh kerja olah ladang bersendakap. Sebagian besar dari peserta selamatan ini ialah petani tembakau yang turun dari desa-desa di gunung Sindoro, Sumbing, dan Prahu. Tiga gunung yang di lereng-lerengnya tumbuh subur pohon tembakau, bahkan menghasilkan tembakau srinthil, jenis tembakau yang digunakan sebagai bumbu kretek dan berharga mahal.
“Tembakau itu biasa disebut mbako’, dari kata dalam bahasa Arab baqa’ artinya abadi, tembakau itu pohon keabadian. Teruslah menanam tembakau, suburkan ladang-ladangmu,” kata Cak Nun.
Sorak-sorak terdengar, juga rasa syukur dari mereka yang menghadiri acara selamatan sekaligus Sinau Kedaulatan bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng.
Cak Nun mempersilakan di antara peserta untuk menyampaikan uneg-unegnya dan berdialog dengannya.
Subakir, seorang petani tembakau dari desa Lamuk, yang terletak di lereng tenggara gunung Sumbing, menyampaikan kegelisahannya. Menurutnya, regulasi yang mengatur tentang hasil buminya tidak berpihak kepada petani. Pintu impor dibuka, padahal tembakau yang dihasilkan di ladang-ladang petani di daerahnya merupakan yang terbaik di dunia. Bahkan dari barang olahan hasil buminya diberi peringatan bisa “membunuh”.
Cak Nun menempatkan diri ibarat seorang sahabat, ia membesarkan hati para petani tembakau yang sedang mengalami kesulitan. Kebebanan karena dari hasil buminya dianggap merusak kesehatan dan di”haram”kan untuk dikonsumsi oleh kalangan tertentu.
Ia mengatakan jika peraturan sudah tidak adil menempatkan tembakau. Harusnya, katanya, jika rokok diberi peringatan berbahaya dan bisa membunuh, barang-barang lain juga diberi peringatan. Gula diberi peringatan dapat menyebabkan penyakit gula, knalpot juga diberi peringatan dapat membunuh lebih cepat dari rokok.
Dari pengeras suara Subakir terdengar lagi, ia meminta izin kepada Cak Nun untuk diperbolehkan merokok. “Emange aku ki Gusti Allah kok ngelarang-ngelarang koe ngerokok?” jawab Cak Nun.
Gelak tawa terdengar.
Cak Nun lantas menjelaskan dalam konteks yang lebih luas dari persoalan yang dihadapi petani tembakau. Jika semua yang terjadi pada tembakau karena bangsa-bangsa lain tak suka dengan tembakau yang dihasilkan bangsa kita.
Ora mungkin Gusti Allah nyiptane sesuatu sing elek, sing ana dielek-elekne.” Tembakau yang dihasilkan petani-petani bangsa kita ini yang terbaik di dunia, itu yang membuat buta (raksasa) Amerika memeranginya dan raksasa-raksasa dari Jakarta takut dan mengeluarkan peraturan yang mencekik leher petani.
Ia meminta Sabrang, anaknya yang dikenal sebagai vokalis Letto, membantu menerangkan persoalan. Sabrang memberi contoh produk-produk yang dahulu menjadi keunggulan bangsa Indonesia seperti koprah, lalu kemudian ada kampanye dari luar yang menyatakan minyak koprah berbahaya bagi kesehatan. Banyak orang kemudian percaya, dan beralih ke minyak sawit yang diproduksi bangsa luar. Setelah budidaya koprah itu hancur, sekarang terbukti sebagai minyak koprah ternyata baik untuk kesehatan.
Cak Nun nenambahkan penjelasan dari segi kesehatan. Menurutnya, sebenarnya Rasulullah telah membekali ilmu tertinggi tentang kesehatan manusia dari sabdanya: “makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang”.
Sesuatu apa pun itu jika berlebihan memang merusak. Ia bertanya kepada Sabrang “Sabrang, Sabrang, coba koe mangan sego sak truk...”
Tidak ada siapa pun yang berhak mengatakan baik atau buruk bagi kesehatan manusia, sebab setiap individu bisa merasakan dan mempertimbangkan sendiri dirinya sehat atau tidak.
Ia menjelaskan fungsi lidah yang seringkali hanya digunakan sebagai fungsi kuliner, kegunaan lain lidah sebagai pendeteksi kesehatan acapkali dilupakan. Dari lidahnya, setiap manusia bisa merasakan makanan baik atau tidak untuk tubuhnya, jika merasakan tidak enak ya nggak perlu diteruskan.
Begitu pun bila orang merokok, jika merokoknya sudah membuat lidah terasa tak enak maka berhentilah dahulu, makan atau minum, kemudian merokok lagi nanti.
Ia kemudian menawarkan kepada peserta untuk bernyanyi lagi. Tapi sebuah ide tiba-tiba muncul dari Kiai Mbeling itu, ia menawarkan untuk menyanyikan lagu daerah Jawa Tengah, Gugur Gunung.
Tapi supaya lebih pas, katanya, satu kata dalam lirik lagu Gugur Gunung diubah “mulyaning negara” menjadi “mulyaning para buta” yang menerbitkan aturan-aturan yang mempersulit nasib petani.
Satu nama disebutnya, yang saya lupa mengingat dan sepertinya pencipta lagu Gugur Gunung, dan meminta maaf atas keusilannya mengganti lirik kali ini.
Alat-alat musik ditabuh oleh kelompok Kiai Kanjeng. Para petani tembakau mengikuti suara Cak Nun yang bernyanyi.
ayo ayo kanca kanca
ngayahi karnaying praja
kene kene kene kene
gugur gunung tandang gawe
sayuk sayuk rukun bebarengan ro kancane
lila lan legawa kanggo mulyaning “para buta”

siji loro telu papat
maju papat papat
diulang-ulangake mesthi enggal rampunge
holopis kontul baris
holopis kontul baris
Di malam itu, ia terus membesarkan hati, membangkitkan keberanian dan semangat bekerja lebih keras lagi, juga rasa syukur kepada Sang Pencipta atas setiap hasil bumi para petani.
Cak Nun meminta untuk siapa saja yang ada di alun-alun untuk berdiri dan bersama membaca Shalawat Indal Qiyam.
Wajah-wajah menunduk, seolah berharap pada kekuatan yang lebih besar, dan beberapa mata terlihat telah sembap dan tak mampu membendung airmata.
Ia mencoba menenangkan mereka yang terhanyut dalam khusuk shalawat, dan memberi harapan: sepuluh tahun lagi akan ada perubahan besar di negeri ini. Ia lalu mengajak untuk menegadahkan tangan dan berdoa bersama.
“Ya Allah, engkau tidak main-main menciptakan tumbuh-tumbuhan bagi kehidupan manusia. Engkau tidak main-main menciptakan dan menumbuhkan tembakau dan menjadikan rezeki bagi para petani.”
Dan kemudian, “Dan barang siapa mempermainkan tembakau dan nasib petani, mereka akan mendapat murka-Mu. Barangsiapa bermain-main dengan nasib orang banyak, meraka akan mendapat azab-Mu.”



sumur : http://komunitaskretek.or.id/

Senin, 27 April 2015

Aku Mabuk Allah

http://i.ytimg.com/vi/7-NgsQ4R7xk/hqdefault.jpgaku mabuk Allah
semata-mata Allah
segala-galanya Aallah
tak bisa lain lagi
aku mabuk Allah
lainnya tak berhak dimabuki
lainnya palsu, lainnya tiada
nyamuk tak nyamuk
kalau tak mengabarkan Allah
langit tak langit
kalau tak menandakan Allah
debu tak debu
badai tak badai
kalau tak membuktikan Allah
kembang tang mekar
api tak membakar
kalau tak Allah
mabuklah alu mabuk Allah
tak bisa lihat tak bisa dengar
cuma Allah cuma Allah
kalau matahari memancar
siapa sebenarnya yang menyinar
kalau malam legam
siapa hadir di kegelapan
kalau punggung ditikam
siapa merasa kesakitan
mabuklah aku mabuk Allah
kalau jantung berdegup
siapa yang hidup
kalau menetes puisi
siapa yang abadi
Allah semata
Allah semata
lainnya dusta
1986

Aku dan Tuhanku

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRj4gLgXuyWO7Q6_GY4NnhqiE8Zgyrn0IGU2DZsQQ3N0-DzyycCTuhan
maafkanlah aku
jikalau aku lalai akan segala perintahmu
bahkan aku asik bermain-main dengan laranganmu
Tuhan
maafkanlah aku
jika kitab sucimu hanya tergeletak diatas lemari
sedang aku sibuk dengan diktat-diktat barat yang kuanggap suci
Tuhan
maafkanlah aku
jika aku tak kenal dengan nama-nama indahmu
sedang aku asik menghafal nama-nama yang menjadi bahan gosip
Tuhan
maafkanlah aku
jika doa salatpun aku tak hafal
sedang aku asik menghafal rumus-rumus matematika,kimia,fisika dan semacamnya
Tuhan
maafkanlah aku
jika zakat dan sadakah tak pernah aku lakukan
sedang aku asik menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tak berguna
Tuhan
aku yakin
kau “ALIMAN”

SAJAK ATAS NAMA

data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBxQTERUUEhQVFhUXGBgYGBgYGBQXHBUVFRQXFhgaGBcYHSggGBolHBUXITEhJykrLi4uGB8zODMsNygtLiwBCgoKDg0OGhAQGiwkICQsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLCwsLDcsLCw3N//AABEIANUA7QMBIgACEQEDEQH/xAAcAAABBQEBAQAAAAAAAAAAAAAAAQQFBgcDAgj/xAA8EAABAwIEBAQEBAUEAgMBAAABAAIDBBEFEiExBkFRYRMicYEHMpGhQmKxwRQjUnLRM+Hw8UOCY5KyFv/EABkBAQADAQEAAAAAAAAAAAAAAAABAgMEBf/EACcRAQEAAgICAQQABwAAAAAAAAABAhEDIRIxQQQjMlETIjNxobHB/9oADAMBAAIRAxEAPwDD0IQgEIQgEIQgEIQgEIQgEIQgEIQgEIQgEoT7B8HnqpPDp4nyvtfK0X06k7Batwh8EnSRiSukdETtEzKSB+Z3I76BBjZSL6Vp/g1hjRrHK89TI4fYJviXwVw9w/leLEeoeXfZyD5yQtJ4m+EFVBd0DhUM6DyvHtzWd1FO5ji17XNcNw4EEexUbNOSEIUgQhCAQhCAQhCBUiVIgEIQgEIQgEIQgEIQgEIQgEIQgEBCUBB9IfA3AWwYe2aw8Wc5nHS/hi4YPTn7rSQq5wjT5KaAGwLYmCw0AswaKxgpjU3oqRyAVznfYKbUGlVYDuVmXxF4bp6xjnABk7flkA3/ACvtuO6tXENZPqIyG/r7nZUHFcdnALHBu+ug/UbrDy3em8w67YzPEWOLXCzgSCO4XNPsb/15O5v9QmK2YBCEIBCEIBCEIBCEIBCEIBCEIBCEIBCEIBCEIBCEIFVm4Q4WkqXtebsha4EyEXByuGg13OyrIWv8KUjo8PY5j7+N4R1uQA2Sz2gdbhZ8ufhjttw8fnV6pcQcD5pSGjloLDkNOynqOuDmgia47H9Vl3ELaxkrslMZYydy8jNa2mmyjMMrqiOdrWRyR5nC8bzprvZ5XDjMrPKX/LvuONvj/wAbe6WT8L/rYqLxDFZmjXKfYj9FQMa40qIJTGGAG27nW+nIpabi6RzD4uUkb5XNcPspuXJZ1/tWcWEurqpHFeL2tNntI6kai3eyqmN4lHK27SOg6gJvilXHMXFmh6dFC/xsYORwv1cPwnrdacVvyz5sZj+Kp4lJmlce/wCibKSx6iEUpDXZgQHD3UauyenDQhCFKAhCEAhCEAhCEAhCEAhCEAhCEAhCEAhKEWQIhKu8NHI75GPcPytcf0CDgFqvw8rM9AYj+GUtDv6cwzDTnqSqVhHBddUm0NLKdbZnNLAPUustKwPguroKYtqGxWdIHgsfmObLYNIIGyx+om8K3+my1yJuTh+aUZ5HucbbiTKBb8jrAexTnAOF5S8eNLniacwaSHG4Ftxy91X211TVvFPGcgBHiON9Gg/uu8PxDlge+Kph8MsJa02IDmjQEX9OS4MJbO3pZ79Sm/FHD7RM974i5jj5Mp+U82uHQhQdXw9E9too3QybiwIDrd+qnZuNmytDY4iJS4WvsRfbuCEYnWwOgLo3ujdY+UOda/TLy1SZZY9LeGNnanv4fdCx0tRm20be2Y3/ABKDvmJ0sOnr0CkcTrnvaGucSB1UNIbdgN+66uPfy5eWY/DhizgQOoNvZRa61EuY3XJdOM1HDnlvLYQhCsoEIQgEIQgEIQgEIQgEIQgEISoESosnuEYXLUzMhgYXyPNgB9yTyA6oONHSvle1kbXPe42a1oLiT2AWu8K/A+R4D66Xwxv4cervRz9h7LQPh3wBDhsYJAkqXDzyW+X8rOg091c3OsR0/RSK7gXAdBSgeFTMzf1v/mOPu69vZWFkbWjytaPQAfougXIOu7sEo6lQvFsQdSSdWjMPUf8AamFGcTUzpaWZjNXOYco6u5KMpvGxON1lKyrxZ3eamLGaed7xc3A00G9k3xyGqkp7TCOobpYh3maeoB2+qmIstMckvl0uex/FdQmIYM10hfT1nhtdqWG7g0ne1jsvLxtwysr2sbjlNqlDWtjkbmY4Fjgb+h2snGJSXeXjZ/mU7U0EETb3Ej+Zdrc9gq64jVxB7BXlmXcUynj1synjsLnf/KhcXG2W9ufr0Vqlpf5WZ34tfbkE0noWnU6f4XVhPlxcmVvpS0KSraAaln0KjiFu5CIQhAIQhAIQhAIQhAIQhAIQhAJUiVAALffgRwx4MP8AFyD+ZOCI/wAsTefq4/YLE+HsMdU1MMDRcySNb6AkZj7C6+tLNg8KMCzGhrGkaBpDbNB9QE+CRIt3SyjQppLWBls3ync9F2a/NsUlHSR9hdJC2wXKTUhdxsnyl6avJKR0tlybJf329QiGV8bYcZpJog7LKxxfE4c2u1IPZZzDWyBzmStGZpsdLG/stb+JsGV8M7NyCD7fust4xmvJHK0WLgWvP5ht+pXPni6+PLTxLUi2g1TbDGOnmy/gb5nntyA9VHeI6Q5RcnorrSUIihbC21zrI7q462CrMdVplns0xF2ZzQB5Qfr/ALJjXtJ0HZS8cFyTyGgUXVHzOtryHqrxjYZYfh3jTMiZu4gX6X3J9Fp2IfCSjkgDWl7JQP8AVG5P5m7EdlF/DTDQKjUXyAOcepJuAtalfr6WV4yyj5P4p4bmoZjFMO7HDZ7b6Ef4UKV9O8ecPx1tOYjYPOsbv6Xjn2B2K+aa6ldFI6ORpa9hLXA8iFeXalmnBCEKUBCEIBCEoQIhKhAiVCEAhAClOHcDlrKhkEAu9/0a3m49AFA0T4DYJmnkq3Dyx2jZ/e8+Yj0AH1W247TF8b2je1x2LdQfYqM4bwWGgpGQMu4M1cQLl7yblxspeDE4pNA8AjkdD7qL60tP2a0kglp2OPMa+o3+91IUxTHDYcniR8g9xb/a6zh+p+ia1lY5j2RA3JcNejb8/oo9dp1vpMM1K7OOy5wM5r2d1eK14e3mdlyzjcctdei6Su5JmWNNwfr2VbUyKz8R23p2kbB9welxr9wspxGH+IjEbGku3JAJsQf+1tmP4f8AxNO9jT0t6g/4VAjjEQyNbYC+w+5VLdNcVcwjARE4Fw0GpvuSpeQXvyXqZ1zquUztNFX20NKl4a02TSjphbMeX/6K7TNvoOqc1LMrQz6+qkWf4cttmcR88mp6BrCVf2gu12vsP3KqfAEQ8Bg3c5z3EdBoB9grk1wubHbc/t7K0Y5e0ZJHeU3+VoDR6/M79liXxqwxjaiOoZa8gyvH5mbH3GnstfmrgBI6Mgvc4tZ0ufmcT/S0C91mPxApxNh80rNWxSxsYebrA53e5ddRjdUs6ZEhKUi1ZBCEIBKkCVAIQhAIQhQJnhLh2WvqWU8O7tS47MaN3FfTHC/B9Nh0bY4W3cfnkdbO825nkOwWGfBzE5qeva6OJ8kcg8OXK0nK06g32FjYr6SnkGxBsdiNVPQbnDWh2ZuYHsTr6ppjGDRy+a5Y8fibbXs4HdSBqr6C1+68lxIsQPqVXpaWq03xYW2c+7t9O37JnPUl1VC/Nlbclw6kNI9hchP+J3lo01OU6fRU/Apy/wAWR+5cG+jQBp9dfZZ/Om2Pc20yTEo4m3c4E8gNV6jrg5ufa/XcKjwnxHtYBuQPbmp+Z2uUKblVfCHzJXSO6NH3Tp8WwGy500NgngNm3UztS1zJA0GwWfcU0+Sd/R2o91eRMPdV/i6AOa1w5aH6quXa2HtS5Wc00lClJI9E3ip8xURs5UFNrmOzdffkvLqYvdbmTYe5U+KTLGB1XrD6X+bHcbG/01UqrZhflY2KNrWgCxI3sNL3THG6t0hFLTg66PcN7HvyUphsDvB0IDnXLifwgk/supjZDFaMhpdu87nqSrM/lVsRw4uP8LE6xy/znj8DOUbPzE7qC+JEcdPhraVmzj6nTUk97q3xZXXZCbRi5kk5uPM36qm4/CyV0tRIP5FOw2B2c7KQxvdxcQfQKIm9sHQlukWrEIQhAqEIKAQhFkAnmE4c+omZDE3NJI4NaO55+gGvsmll9FfCHgSOmgjqpWk1MjLi/wD42P2AHUjc90Fq4X4Sio6RkDLkt1c7YvedybbqTa4s0y6et/qn7jZMa25+U5XjVp5OHQqMonEyqIn2zNOYfcH2TWLF3sNntB6X0SvxNxu0gMeNDbQqLrpBIPNoR+IEj69VlttJv298R1IlZmj0dl1G/wBFUuGKNz45sly9hDrdWHQ/eyhanipj5/Apy51iWukOg0NjlHP1Vh4VrPAqWu2DvK70P+4ClPx0sfDlE7WV4I0IaD33KlqWOxzPUhiI0uNj9imlOy+h1UWdqb32fQPzbbLjiMtyGBOm2a1RebM8lWy6iuM3dklYS4WbtzG1u6jcaa54/KBe3dWCIWFlGygOky6kaqvpeXtTHNvou1IwA7aDn1TivoHNebbXT/Bqa17jcc1MWNZ5xoF6w+7pRYaNBJPsns2ERyHm08iF6p6IUzHuc7N0uLWvzPdSbS8eQND3HSwtbnYfdN46EzuMk4Ij/CzUZu5ty7KRoaeNjGN3ytAF9ff1TiZoO7vQBTIz3pEVcDpB4UQDIxvbQLM/ifiLfDbTQ6Rsd5iPxvA1J+oWn49VlkRZG3zO77dysn44wR9omRi7skkju5zhQt8MeKF7mHmPqf1XhaMQhCECoQhQBAQlAQXv4P8ACwra8GQXhgAlf+YhwyNPYkXt2X04GrNPgDhfh4c6YjWeRxv+WPyD2uCtMKtBzL7bpnUtzsOTdpuOxG6dSPb8pO/XRQWLymKVpabX0KplVsZs0xCUPYCf9QfcDcFUL4j4r4FPdrrPl8rR9Mx9gVKcb8WxUL252ue54c5rW2221J21WazVkmIziZ4DWRjKxu+XrrzKpJ8tLfgnBeHlr2XGrnX9Byut3qeGIxSOEbbyWD83Mka2WZcP0FpWW6hbdhkl2dxor9VXL+VE4LKKmFpzkEWDx1I/RS8dO1os0KvupXUtTnA/kvcAfy5tr9rqwTOsDYX/AHSK1GYtVZdAvOHQkNLi0i/6JpNTvJLnD/noujK9wFtyNz1We/2vro9lfYEhR1G0l5Pb9V3lqPEFgNemy5xwlt81wTt7JSdDEYhZNYXafZe5bk6pGNUrQ8YGhvNQfENY3IWk2bsT26p/K+wN1n3GGKGzgO6DYKSFojblJcA0AHqAN1ymcdm+Qnna/wD0mnDxf4THjRpY3fn5QpKaUdL/ANtyrs57VyejmY4u+frr/lV7io3dE/VlmvbY8/M02CuM2Lxg26dTY/QqCxp8Ezoi8kNbe+l733tYqq/d9vnHG4stRIPzE/XVMVb/AIoVdNJXEUgAjYxrCRzeL5lUFoyvsIQhEFQEoK9AKB5svQRZemMJ0A1Og9Tt91I+l/gziBlw2EBmVkbSy/8AW5riHEK/KtcBYeykoIIA5uZrLu1HzO8x+5Vke+wup3DRhXzsFmuuLmwuLa8tVCYhI0ZzK4AMGa7joOVyVEcU4wXPsHWY0gnoMut7rKOP+NDU3hhcTH+N+v8AMI5f2rK9tJ0jPiNj7K2sDob5GNEbTtn11IHIXKu/BWDRCKJrza/zH1WQtNjf/mmq2z4dy+KwXpZngC18jg3XoTYK3wjG99tNw3h2mjs5jLnk4m/0T5jC19xsd/XqoJs8lHGXua90QBNtHFg6EXUfTfEKnfo5wb/cC377KPKQ8bVxq4A9rmHZwt/hcGEhgB3Gh9hZNKLHY3gEOBHUG/6LtX1Tct2EFx0sNdVPlL6R42e3iWXMQAuNfhjzqwAEcxz9QnOHYfl8zz5unRPxUt/qCjx37PLXpVYpPNY6OClSRK3K7R3J3dd8Rw2KYb5XDZzdx69VGR4ZKw+WVjx3Nio1pbe3J5cx2V41/XuEhka3UmyeyeZuWZvo4G9vQhRk+Eh5tGXyetgPqoWnaD4ixVxAZA0uc42CZ4X8PZ5J2vrHsyXu5gNyRuBpoAVecDwAx3e/LnOxGpa3seqmmwgb3J6my0kUyyJDFawB0AsANgOQRJTM5tH/AD0XrwRyUPi2ORxODRZz+Yv8vqpulZLa94vQRubdzMw+pHpzVJ4goGyEGlmGZrLCEjfmfN1KfYrxnJGQHBmR4da17kDSxuqpxNijIaT+KiIubNaBykPLqLWuqWfppNydsgxthFRLcEHObg6EG+oITFOa+rfLI6SQ5nvN3HqU3V2REJUiAsvYXXIkMRCBGuVl4Ewsz1LTbyR+Zx78go/h7AJat+WMWA+Z5Byt9+Z7LbuFOHGUsQazXmXHdx6lc/1HN4zU9un6fh8r5X0m6CMMZ2HoozHuLxTRODzcEGw535BvqpuVuizr4g4J4ssT5ZQyAXB11zX/AFXJ9Pv+JJt1c2rhbpQse4hlqjY+VhPyD8X93VOMB4Rkn8z7xstobDM49geSufD2CUbDeEhzzzc67vYH/CsBhIXpvNqIwXBI6YMyMYXt/G5jXEm976rQMI4vaSI6gBhOgePk9Hf0H7KrtC8ytHPZShp9XEHxPbuHMcPUFvJfPE0BBI9j6habgGNvpyGOu6E7D+j+09OymZuDKKRt2RlubzXa52pcbnc91FIxNhLDdhc0/lJClaDiqojPz5v7xf77q3Vvw7Jc4RTAG+geNxy1Cr2JcCVkeoiLx1Z5v91TUtXlsTtB8RAABOSwHQndv31H1VpocWZK28Tmu73uP8rCcYa+B4LwWkcntNj2Ida650XEJheHxtyH/wCN5aD/AOuoWWWGW94tMcsb+TQ+POKZo5mwxHKAA55F9c2wUnwdiUlRAXS/MHuaD/UBbX72WeYlxc2pcHyQAvAAJzEXttcAclb+A8ea+OXM4AsINhYNDSNAFly43w3fbbhs8+k/V4h4W5UVU8YNaSA8bdVAfEPG2Flo3i5NtCDtudFmZmJO5197rPi4be7W/LzY49afQVJ8QS9jQW5SG+Z+99bDL7DmnjuKW+GTE8GS2mY8++qxrDKgmJt9NLEeisfB0kZnBle1rW62cQ3M7lv0Xbq6cN8dtGwnH5I4BNWCQNJNnXHmJ2GTcbKq4lLFK91R4rYmAl0jXaWaOg5krx8VuIY304ihnjfPnblYwhzjfSwAv1URw7gvhNa+fzzHcv1DezW7A91aTcV8pDeOQ1heY2PbGCcr3gtaBfS19dVnvEcrxKY3XAby1sTtcLY6yYWIuqZjtLHICHAHvzB9VaTalrOElk5r6MxOsdRyPUf5TVEFshAKWyB60LpTRlz2t6kD6rnYFWv4cxRuqx4xaAGkNLtsztNbDkq29LYzvtb8ExaOKNjIowGtOUjqRue55qyYpxCI2B1gOQ3Gqrs2FwxOlaxwfkka8Fu13WBH6rzxuBLTMscpzxi40IBPmPsAvN8d56etLJhv9RYOG8cNRI4G1gBpubHmeicYjO10rY993egH/aiuEcGZRGR3iOeHAG77Aiw02XCkqM880g20Y30bcu+pNvZa8fH93U+GPNn9rf7SVVTsIs5rSO4+99woSsr3Urv9VsjeUMhJf/6OGp9CE8rKl58kRsfxPtowHkPzWTb+NggIc5uvN9gSO5O67v7vNOMK4jgqPKDlfzY4WcPYqTOVcPEp5xtG8jn5bj0I1+6az4BE/wD8k7ewlf8ApdEpHx2tBvo3qeSluG+J42uyOe0xnZwcLNP+Cqe/hCAgg+I6/WWT/KiqnhVsEf8AJi8Y63DnODiO1iAVPUQ3d8IIBG+4tzvqqlj/ABt4Mv8ADxgeKG5nPf8ALGDtdo1cdCeSy3BviBNTXis+Jo/Dd7rdgHk5VB4piFHNK+WR9Rnfq5wfe/8A9h0U6TvpKfEfimGtY1hkdJIwkgj5dd9AFnj2kK3YfwrBPrBLKB1cwW+ul04//hw3/UnJbf8AA0fvdV0bqmskTiOtc0ENcQDoQDa/qrXJwXA+whqC13Nsgv8AS1l3p/ho4kZ6luXc5Wm5Ha5sFWxfHKz0a8DYA2oLpJgTG3QDXzu79grFjVFRUUD5GxNMh0Zm81nHpfYC6fQUjYWiOO7WgWHU9z3VJ+IVSS6KO/IuPvoFaRW5Wq/Lib/wkhJQeNPII49XH7DmT0CYW5LSsDpQGBkEfhiwzyEeZxtrr0So244PwwyKVrnOM0zTew0Yw9+tlbXMtq4i/bkmjpWQM/5cn91HyYoXGwFydv8AdOxLyWc61+WqpmJ17HSOaw3y7qax/EDBTPds4i31VDwh3l17lx6lMNldMXAcwg7jVqrif1tYXOJ5bD0TFSgq9ArwhBJ1MIGoS+OWMY5ps4l2vYW0QhImrJHiLs8gFhmEJuL6XIvp7qyTVHngDvMDnaRfqzdCFyY/nHoW28VWOipfGo5HlxBDdNj+H/ZVHEMRdS0DDHYvfYZjyLzcm3uhCvxf1MmHNft4vEFG+OIETPLg0PJ5OL97hTWFVQmZZ7GnSx7oQujL05op/E2HfwL2zUz3NzH5eQtr9Oys/CHEr6lnnaLjmDv9kIRC2By6OQhUq0RWMYXFM3LKwPB9iPR26r8vBlIxzT4ZPq9x/fVKhaRVY6OBugAsP0T6WFuU6c0IVMva0V7FsOY5twMp6hNaCZ7RbMSAbfVKhTURHcUY4+njDmtBJNtdh7c1nWIYg+Z5fIbn9unohClB9wphzaipZG++U3Jtzyi9r8lqslmM0G2wQhQKu6odNL5joNgph7GwxueBcgX9UIVxmuMY1LUOJefLyaNgAV7jOWnBG7iboQqxNRCRCEQF0jjuhCD/2Q==Ada yang atasnama Tuhan melecehkan Tuhan
Ada yang atasnama negara merampok negara
Ada yang atasnama rakyat menindas rakyat
Ada yang atasnama kemanusiaan memangsa manusia
Ada yang atasnama keadilan meruntuhkan keadilan
Ada yang atasnama persatuan merusak persatuan
Ada yang atasnama perdamaian mengusik kedamaian
Ada yang atasnama kemerdekaan memasung kemerdekaan
Maka atasnama apa saja atau siapa saja
Kirimlah laknat kalian
Atau atasnamaKu perangilah mereka!
Dengan kasih sayang!
Rembang, Agustus 1997

NASEHAT SANG KIAI KEPADA SANTRI-SANTRINYA

Emha Ainun Najib“Aku akan segera bergabung dengan masa silam alias akan dipanggil oleh Tuhan”,
kata seorang kiai di suatu sore kepada santri-santrinya. “Aku akan segera
berlalu, masaku akan segera dikuburkan. Kamu sekalian para santri sekarang mulai
menapaki masa peralihan dan anak-anakmu akan menjadi penghuni jaman baru yang
dahsyat dan mengagumkan sesudah orde yang sekarang”.
“Sami’na wa ‘atho’na..”, kata para santri dengan penuh ta’dzim. “Hamba mohon
wahai pak kiai tancapkanlah cahaya yang menerangi cakrawala hamba jalani”.
Sang kiai terkekeh-kekeh. “Bahasa dan tata prilakumu semacam itu adalah bahasa
generasiku. Sehingga besok akan terkubur bersamaku dan bahasamu yang bisa
dikenal oleh masyarakat adalah bahasa Rap, bahasa extacy, dan bahasa-bahasa yang
makin tidak mengenal sopan santun. Hei berlatihlah untuk meninggalkan upacara
dan sopan santun yang barbagai dan bertele-tele semacam itu. Kemudian mulailah
satu cara hidup yang praktis, yang prakmatis, yang efektif dan efisien. Kemudian
karena engkau adalah bapak dari anak-anakmu kelak, dan cara hidup baru itulah
modal utama yang engkau ajarkan kepada anak-anakmu, agar mereka sanggup berlari
seirama dengan jaman yang mereka jalani. Cara hidupmu yang bertele-tele jangan
engkau warisi dan jangan engkau wariskan kepada generasi dibawahmu agar mereka
tidak digilas oleh buldoser oleh suatu makhluq baru yang esok lusa akan lahir
semakin banyak lagi”.
Si santri bertanya, “Apa nama makhluq baru itu pak kiai..?”
Sang Kiai menjawab, “namanya Al Khonglomeraat..”.
“Makhluq apa itu gerangan pak kiai..?!”.
“al khonglomeratu kabirun jiddan.. tubuhnya sangat besar.. salah satu kakinya di
pantai teluk jakarta, kaki lainnya di gunung sebelah selatan Surakarta”.
“Pak kiai.. itu pasti semacam Gatot Koco yang berotot kawat bertulang besi..”.
“Bukan anakku, otot mereka bukan kawat dan balung mereka bukan besi tapi otot
mereka adalah jalan-jalan tol, tulang-tulang mereka adalah cor-cor besi
gedung-gedung pencakar langit”.
“Jadi kalau begitu mereka sangat kuat ya kiai..”.
“Sangat-sangat kuat.. maka katakan pada saudara-saudaramu dan anak-anakmu jangan
berusaha sekali-kali melawan mereka kalau belum sungguh-sungguh menghitung
kekuatan sendiri”.
“Pak kiai, persisnya berapa kuat makhluq bernama khonglomerat itu..?”.
“Hampir tak tebayangkan karena dia sanggup mengalahkan dengan mudah semua
pendekar-pendekar ulung. Apalagi sekedar bernama gubenur atau mentri. Kalau
sekedar bupati atau setingkat hanya dijadikan slilit-slilit kecil disela-sela
giginya. Bahkan ada pimpinan-pimpinan didaerah seperti itu yang memaksakan
sebuah proyek harus segera dilaksanakan karena dia dipindahkan dari jabatannya
dan harus mendapatkan bonus dari proyek yang dikerjakannya itu”.
“Ajaib ya pak kiai..!!”.
“Ya, ajaib.. kalau konglomerat meludah, setetes air liurnya menjadi sepuluh ton
supermie. Kalau dia bersin riaknya menjadi miliayaran virus-virus. kalau batuk
jadi apa..? Kalau batuk jadi mall.. supermarket dan plaza-plaza..”.
“Luar biasa kiai..! kalau begitu makan mereka itu apa sehari-hari..?”.
“Makanan mereka adalah sejenis jajan yang bernama Rakyat Kecil”.
“Kalau demikian..”, kata si santri, “Akan aku ajarkan pada anak-anakku ilmu
binatang”.
“Lho.. apa maksudmu dengan ilmu binatang?”, tukas pak kiai.
“Ilmu keserakahan yai…”.
“Darimana kamu memperoleh ilmu bahwa ilmu keserakahan adalah milik binatang?”.
“Lho, pak kiai gimana, sudah menjadi pengetahuan umum sepanjang jaman bahwa yang
dimaksud kebinatangan adalah kerakusan, kebencian dan kebiadaban”.
Sang kiai tertawa terbahak-bahak, “Kiai mana yang ilmunya sesat seperti itu..??
Tidak ada binatang yang rakus itu.. tidak ada.. binatang itu selalu berhenti
makan kalau sudah kenyang. Tidak ada binatang yang sudah kenyang masih terus
makan. Manusialah yang terus makan meskipun sudah kenyang.. Manusialah yang
tidak pernah merasa cukup meskipun sudah memiliki ribuan perusahaan. Manusialah
dan bukan binatang yang tetap merasa kurang meskipun ditangannya sudah
tergenggam seratus milyar, meskipun sahamnya sudah berekspansi sampai
kehutan-hutan dan dasar lautan maupun gunung-gunung disebelah wetan”.
“Manusialah..”, kata pak kiai, “..yang meskipun telah dia kuasai harta yang bisa
dipakai untuk membeli 10 kota besar berpendapat bahwa yang ia jalani adalah pola
hidup sederhana!. Kalau 10 ekor semut bergotong-royong mengangkut sejumput gula,
mereka tidak akan menoleh meskipun disekitarnya tergeletak sejumput gula yang
lain. Tapi kalau manusia… manusialah yang selalu sangat sibuk mengisi
ususnya dengan penguasaan industri makanan dan kosmetik, industri otomotif,
properti bahkan industri manipulasi atas Pancasila dan Kitab Suci”
Emha Ainun Najib

Jumat, 10 April 2015

Konsep Teologi Sepeda Hilang (Emha Ainun Nadjib (cak nun))

https://c2.staticflickr.com/8/7069/6862483473_acd96f2279_z.jpgPada suatu pagi, sekitar 15 tahun yang lalu, sepeda pancal alias sepeda onthel saya hilang dari rumah kontrakan saya. Tentu diambil oleh salah seorang dari anak-anak muda sekitar sini. Banyak dari mereka pengangguran, dan lagi rumah ini memang dekat dengan pasar.
Sebagai manusia normal, saya marah. Tapi terus terang ini tidak konsisten dan tidak rasional. Rumah ini memang tak pernah dikunci. Setiap orang gampang sekali membuka pintu yang sebelah manapun dan mengambil apapun. Jadi, kalau sepeda hilang, itu logis dan realistis.
Tapi saya tak peduli. Saya ke depan rumah, berdiri bertolak pinggang menghadap ke arah pasar, dan berteriak: “Kalau sepeda saya tidak kembali sampai nanti sore, saya tidak bertanggung jawab kalau ada orang pengkor satu kakinya, cekot sebelah tangannya, atau pethot mulutnya”.
Orang-orang di sekitar kaget dan terkesiap sejenak. Tapi saya segera masuk rumah dan tidur lagi.
Tak disangka tak dinyana, ketika siang belum sempurna, pintu depan diketuk berulangkali. Saya nongol, seorang anak muda berpakaian butut berdiri dengan wajah ketakutan dengan sepeda berdiri terjagang di sebelahnya.
Ketika saya menatapnya, ia menunduk. “Kenapa kamu?” Saya bertanya.
“Maaf, Cak…” ia menjawab tersendat, “saya yang mencuri sepeda Sampeyan. Saya minta maaf. Sekarang saya kembalikan….”
“Lho, kenapa kamu kembalikan?” Saya bertanya lagi.
“Saya dengar dari orang-orang bahwa Sampeyan marah….”.
“Tapi kan kamu butuh sepeda?” Saya kejar terus.
“Iya, siih….”
“Untuk apa sepeda?”
“Tempat kerja saya jauh sekali. Kalau saya jalan kaki, kejauhan. Kalau saya pakai angkutan, gaji saya jadi terlalu sedikit….”
“Jadi kamu butuh sepeda?”
“Ya, Cak”
“Ya sudah, kamu bawa saja sepeda ini,” kata saya, “sekarang sepeda ini sudah halal kalau kamu bawa. Saya sudah ikhlas, kamu sudah tidak berdosa. Dan, Insya Allah, kalau yang kamu pakai adalah barang halal, rejekimu akan berkah. Kalau tadi, karena kamu mencuri, maka kamu berdosa, dan saya kamu tindas. Kamu dikutuk Tuhan, saya tidak mendapat apa-apa kecuali kemarahan. Sekarang semua sudah halal dan baik. Silakan pakai, semoga Allah menambah rezekimu dan meringankan hidupmu.”
Dia bengong. Saya masuk rumah dan kembali tidur.
Dengan dua macam lalu-lintas pindahnya suatu barang dari dan ke subyek yang sama, nilainya menjadi berbeda. Kalau saya memakai kalkulasi ekonomi dunia, maka saya rugi kehilangan sepeda. Maka saya pakai teologi manajemen dunia akhirat, sehingga beralihnya sepeda saya ke tangan anak itu tidak membuat saya kehilangan. Malah saya laba banyak, bukan hanya pahala di akhirat, tapi Allah juga menjanjikan rezeki berlipat ganda, entah berupa apapun, terserah Dia saja. pokoknya la in syakartum la ‘azidannakum.
Saya ini hampir selalu dikeluarkan dari setiap sekolah yang pernah saya masuki. Jadi saya ini bukan kaum terpelajar, baik di sektor Salafiyah dan Kitab Kuning, maupun di sektor persekolahan modern. Jadi saya tidak tahu banyak mengenai banyak hal. Tetapi dengan segala keawaman itu saya haqqul yaqin dan ‘ainul yaqin bahwa apa yang saya pahami, sikapi, dan lakukan dalam hal sepeda itu adalah konsep teologi Islam.

Apapun saja yang saya lakukan di muka bumi ini, sejak pagi hingga pagi berikutnya, ketika berada di timur atau barat, tatkala berjaga, atau mengantuk, sebisa-bisa saya tumbuhkan di atas kesadaran dan konsep teologi yang segamblang-gamblangnya.
Kalau saya menjumpai sebatang kayu melintang, saya sisihkan ke pinggir supaya tidak menyandungi orang lewat. Kalau mungkin, saya akan pakai ia untuk menyangga sesuatu atau untuk apapun yang bermanfaat. Konsep teologi saya ada lah bahwa segala yang di depan saya itu merupakan amanat Allah untuk saya Islamkan. Di-Islamkan artinya diubah dari kemubaziran atau kemudharatan menjadi kegunaan dan kemashlahatan.
Ingatan, kesadaran, dan formula konsep teologi itu harus terus-menerus saya cari, saya pahami, dan saya terapkan. Dan itu berlaku untuk pekerjaan yang kecil maupun yang besar. Untuk soal rumput di halaman rumah sampai soal pekerjaan sejarah besar yang menyangkut kebudayaan masyarakat.
Saya menyuapi mulut saya dengan nasi tidak karena saya ingin makan, melainkan karena saya wajib memelihara kesehatan badan yang dimandatkan oleh Pencipta saya. Saya mencangkuli tanah dan menanam sesuatu bukan sekadar karena saya menyukai keindahan, melainkan juga karena saya bersyukur dan takjub: kok ya ada di dalam hidup ini yang namanya tanah, kesuburan, serta biji yang kalau ditaruh di situ lantas tumbuh dengan penuh keajaiban.
Saya berangkat tidur pada jam tertentu bukan karena saya ingin menikmatinya, tapi karena saya wajib bergabung ke dalam irama sunnatullah yang menyangkut badan dan jiwa saya. Saya bersedia pulang ke rumah hanya beberapa hari dalam sebulan dan selebihnya diatur orang banyak untuk berada di berbagai tempat dan melaksanakan kemauan mereka, bukan karena itu karir saya atau profesi saya, karena saya tidak punya karir dan tidak peduli profesi.
Saya lakukan itu semua karena, pertama, saya ini aslinya tidak ada, kemudian Allah mengadakan saya, ia satu-satunya yang berhak atas saya, dan karena itu segala yang saya lakukan bergantung pada kemauan-Nya. Saya diberi wewenang oleh-Nya untuk berkemauan, tapi saya tidak pernah percaya bahwa kemauan saya atas diri saya dan dunia ini akan pernah lebih baik dibanding kemauan Tuhan atas diri saya dan dunia ini. Oleh karena itu saya tidak berani melepaskan apapun sampai yang sekecil-kecilnya dan seremeh-remehnya, dari pencarian pengetahuan tentang apa yang kira-kira dimaui oleh Sang Konsultan Agung Allah SWT itu.
Kalau saya punya iradah, harus saya sesuaikan dengan amr-Nya. Terkadang cocok, terkadang tidak. Terkadang benar, terkadang salah. Tapi, apapun yang terjadi, iradah itu harus saya lakukan dengan menggunakan qoul-Nya supaya produknya adalah kun fayakun. Saya tidak banyak mengerti ilmu di alam semesta ini. Jadi hanya itulah yang saya pahami sebagai konsep teologi.
Maka, sebab kedua, orang-orang yang memintaku untuk melakukan segala macam pekerjaan itu — ya kesenian, ya keagamaan, ya politik, ya ekonomi, ya pengobatan, ya konsultasi kejiwaan, ya segala macam jenis partisipasi dan sumbangan sosial — tidak bisa saya yakini bahwa kemauan mereka itu benar-benar terlepas dari kemauan Tuhan. Saya harus berspekulasi dan bersangka baik bahwa mereka adalah penyalur amanat Tuhan kepada saya.
Jadi, apa saja, dari makan rujak sampai bikin ABRI, tidak berhak dilakukan oleh manusia yang memiliki hubungan vertikal total dengan Allah — tanpa memberangkatkannya dari ingatan, kesadaran, dan konsep teologi yang jelas.
Dengan kata lain, tak perlu menunggu mau bikin partai Islam dulu baru berpikir tentang konsep teologi. Bikin mesjid, bikin perusahaan, bikin Golkar, bikin negara, bagi orang yang ber-Tuhan, ada keberangkatan dan titik tuju teologisnya.
Ketika berpakaian sekular, ketika berbusana Muslim, ketika berformalisme Islam, ketika berkultur-kultur Islam, ketika Islam formal dipakai atau disembunyikan, ketika Islam diletakkan di kultur thok, atau juga di politik resmi, semua terikat pada penyikapan teologis. Apalagi yang namanya Partai Islam, harus terutama dilihat secara substansial: bisa saja namanya Partai Daun atau Partai Kambing, tapi yang kita lihat adalah apakah substansi kerjanya Islam atau tidak. Hanya orang-orang yang tradisinya berpikir simbolik yang menyangka bahwa partai Islam hanyalah partai yang memakai nama dan kata Islam.
Kalau ada parpol yang pilar perjuangannya adalah amar makruf nahi munkar dan akhlaqul karimah, maka secara substansial ia telah bersyahadat Islam. Bahkan kalau ada parpol lain yang memperjuangkan demokrasi, kemerataan kesejahteraan, keadilan sosial, dan penghormatan atas haq asasi manusia, secara substansial ia bisa kita sebut partai Islam. Masalahnya, tinggal ditunggu proses aktualisasinya saja: konsisten atau tidak, istiqamah atau tidak.
Kalau misalnya saya sibuk dan mencemaskan berdirinya partai Islam, karena toh substansi partai-partai yang ada juga relatif sudah substantially Islam, maka berarti saya berpikir simbolik. Juga berarti saya tidak paham bahwa kalau ada anjuran tentang partai Islam formal, itu sekadar upaya pembebasan dari tradisi simbolisme: agar tidak resmi Islam ya boleh, resmi Islam ya boleh. Yang penting, substansinya Islam atau tidak.
Tidak hanya ketika saya pakai peci saya maka saya terikat oleh teologi Islam. Tatkala saya pakai kaos oblong dan menjadi gelandangan di tepi jalan pun saya terikat oleh Allah

Kaulah Yang Membakar Al-Quran

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgje9pfeUDb5tp9pxyGEIVlUJN9Xc3wBfxsa5fybVZvg3FIgUpuxMu2dLfuxEwGXuc7kotZAr5AoIXfTQMGLQU_9gmOFmawbZKr4eTKYhsvceadFKBsYY-q8vDCXMOy0KjoXVLZdvL95c4/s320/IMG_7461.jpg“Gila!” rutukku sesaat setelah membaca berita pembakaran Al-Quran yang dilakukan dua pendeta di Amerika, “Ini gila! Kita harus perang! Terkutuklah mereka!” Umpatan-umpatan dan caci-maki-ku keluar tanpa kontrol.
“Setan!” aku berteriak sekali lagi.
Tiba-tiba Tuan Setan muncul di hadapanku! Wajahnya penuh kemarahan. “Bakarlah Al-Quranmu!” kata Tuan Setan tiba-tiba.
Jelas, aku berang mendengar ucapannya. Emosiku naik pitam. Dadaku turun naik. Dan seketika kutuk dan serapah membrudal dari mulutku. “Percuma selama ini aku mulai menaruh rasa simpati kepadamu! Kau ternyata memang pantas dilaknat dan dimusuhi! Terkutuklah kau!”
“Bakarlah Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, dengan nada yang lebih tegas. Matanya nyalang. Gigi-giginya gemertak. Lalu telunjuknya mengarah tepat ke wajahku. “Bakar!” ia berteriak, “Bakarlah kalau memang selama ini ia hanya menjadi kertas, bakarlah! Bakarlah!”
Napasku turun naik, mataku memerah, tanganku mengepal. “Terkutuklah kau!” teriakku lantang.
“Mana Al-Quranmu!?” bentak Tuan Setan.
Tiba-tiba aku tersentak. Tiba-tiba aku merasa harus menemukan Al-Quran milikku yang entah aku simpan di mana, sementara Tuan Setan terus menerus berteriak “Bakar! Bakarlah Al-Quranmu!” Aku terus mencari. Di manakah aku menyimpan Al-Quranku? Aku membongkar isi lemari, mengeluarkan buku-buku, berkas-berkas, tumpukan kliping koran, dan kertas-kertas apa saja dari dalam lemari. Di manakah Al-Quranku? Aku mulai resah mencari di mana Al-Quranku. Aku ke ruang tamu, ke ruang tengah, ke dapur, ke seluruh penjuru rumah. Aku memeriksa ke belakang lemari, ke sela-sela tumpukan kaset dan CD-CD, ke mana-mana. Tetapi, aku tak menemukan Al-Quranku! Di manakah aku menyimpan Al-Quranku?
“Bakarlah Al-Quranmu!” sementara Tuan Setan terus-menerus berteriak, “Bakar!”
Aku mulai panik dan resah, kemarahanku mulai pudar, ternyata aku tak bisa menemukan Al-Quranku sendiri.
“Bakarlah Al-Quranmu kalau itu hanya menjadi kertas usang yang kausia-siakan!” kata Tuan Setan tiba-tiba.
Dadaku berguncang hebat. Pelan-pelan tapi pasti aku mulai menangis—tetapi aku belum menyerah untuk terus mencari Al-Quranku. Di mana Al-Quranku? Ada sebuah buku tebal berwarna hijau di atas lemari tua di kamar belakang, aku kira itulah Al-Quranku, setelah aku ambil ternyata bukan: Life of Mao. Aku kecewa. Aku terus mencari sambil diam-diam air mataku mulai meluncur di tebing pipi.
“Bakarlah Al-Quranmu!” suara Tuan Setan kembali memenuhi ruang kesadaranku. Tetapi kini aku tak bisa marah lagi, ada perasaan sedih dan kecewa mengaduk-aduk dadaku. Ada sesak yang tertahan, semantara isak tangis tak sanggup aku tahan.
Akhirnya aku menyerah. Aku tak menemukan Al-Quranku di mana-mana di setiap sudut rumahku!
Kemudian Tuan Setan tersenyum menang, ia menyeringai dan menatapku dengan sinis. “Jadi, kenapa kau mesti marah saat ada orang yang membakar dan menginjak-injak Al-Quran?” Kemudian ia tertawa, “Lucu! Ini lucu! Mengapa kau mesti marah sedangkan kau sendiri tak mempedulikannya selama ini?”
Aku terus menangis. Dadaku berguncang. Tuan Setan tertawa. “Jadi, mengapa kau mesti mengutuk mereka yang menyia-nyiakan dan merendahkan Al-Quran sementara kau sendiri melakukannya—diam-diam?” katanya sekali lagi. Ada perih yang mengaliri dadaku, mendesir gamang ke seluruh persendianku.
Tiba-tiba aku ingat sebuah tempat: gudang belakang rumah. Barangkali Al-Quranku ada di situ!
Aku bergegas bangkit dari tubuhku yang tersungkur, aku berlari menuju gudang belakang, membuka pintunya, lalu menyaksikan tumpukan barang-barang bekas yang usang dan berdebu. Sebuah kotak tersimpan di sudut ruang gudang, aku segera ingat di situlah aku menaruh buku-buku bekas yang sudah tua dan tak terbaca. Seketika aku hamburkan isi kotak itu, membersihkannya dari debu, dan akhirnya… Aku mendapatkannya: Al-Quranku!
Aku menatap Al-Quranku dengan tatap mata rasa bersalah. Aku mengusap-usapnya, meniupnya, membersihkannya dari debu yang melekat di mushaf tua itu. Kemudian aku mendekapnya erat-erat—mengingat masa kecilku belajar mengeja huruf hijaiyyah, menghafal surat Al-Fatihah… “Astagfirullahaladzhim…” tiba-tiba dadaku bergemuruh, air mataku menderas.
Tuan Setan tertawa lepas. “Bakar saja Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, “Bukankah ia tak berguna lagi bagimu?” nada bicaranya mengejek.
Aku masih mendekap Al-Quranku, tergugu dengan dada seolah tersayat sembilu.
“Jika pendeta yang membakar Al-Quran itu mengatakan bahwa Al-Quran adalah buku yang penuh kebencian, bukankah mereka hanya menilainya dari perilaku yang kalian tunjukkan? Bila mereka mengira Al-Quran hanyalah kitab omong kosong dan Muhammad yang membawanya hanya nabi palsu yang berbohong tentang firman, bukankah itu karena kau—kalian semua—tak pernah sanggup menunjukkan keagungan dan keindahannya? Kau, kalian semua, harus menjelaskannya!
“Jangankan menunjukkan keindahan dan keagungan Al-Quran, membacanya pun kau tak! Jangankan menaklukkan musuh Tuhan sementara menaklukkan dirimu sendiri pun kau tak sanggup! Apa sih maumu? Al-Quran tak pernah mengajarkan permusuhan dan kebencian, Al-Quran tak pernah mengajarkan hal-hal yang buruk, lalu kenapa kau terus-menerus melakukannya? Al-Quran selalu mengajarimu kebaikan, mengapa kau tak pernah mau mengikutinya? Heh, ya, aku baru ingat, jangankan mengikuti petunjuknya, memahami dan membacanya pun kau tak!
“Lalu kenapa kau harus marah ketika Al-Quran dibakar? Mengapa kau tak memarahi dirimu sendiri saat kau menyia-nyiakan Al-Quranmu? Ini bukan semata-mata soal pendeta yang membakar Al-Quran, ini bukan semata-mata soal pelecehan terhadap institusi agamamu, ini bukan semata-mata soal permulaan dari sebuah peperangan antar-agama, ini semua tentang kau yang selama ini menyia-nyiakan Al-Quran, tentang kau yang secara laten dan sistematis menyiapkan api dan bensin dari perilaku burukmu untuk menunggu Al-Quran dibakar lidah waktu yang meminjam tangan orang-orang yang membenci agamamu! Mereka tak akan berani membakar Al-Quran, kitab sucimu itu, kalau saja selama ini kau sanggup menunjukkan nilai-nilai agung yang dibawa Nabimu, nilai-nilai kebaikan yang termaktub dalam teks suci kitab yang difirmankan Tuhanmu! Maka bila kau tak sanggup menggemakan Al-Quran amanat nabimu ke segala penjuru, tak sanggup menerima cahayanya dengan hatimu, bakarlah Al-Quranmu! ”
Lalu seketika terbayang, Al-Quran yang teronggok sia-sia di rak-rak buku tak terbaca, Al-Quran yang diletakkan di paling bawah tumpukkan buku-buku dan majalah, Al-Quran yang kesepian tak tersentuh di masjid dan langgar-langgar, Al-Quran yang tak terbaca dan (di)sia-sia(kan)!
Aku menangis; memanggil kembali hapalan yang entah hilang kemana, mengeja kembali satu-satu alif-ba-ta yang semakin asing dari kosakata hidupku. Aku melacaknya dalam ingatanku yang terlanjur dijejali kebohongan, kebebalan, penipuan, dan pengkhiatan-pengkhiantan. Di manakah Al-Quran dalam diriku?
“Maka, bakarlah Al-Quran oleh tanganmu sendiri!” kata Tuan Setan, “Hentikan airmata sinetronmu, hentikan amarah palsumu, hentikan aksi solidaritas penuh kepentinganmu, hentikan rutuk-serapah politismu, sebab kenyataannya kau tak pernah mencintai Al-Quran! Bakarlah!”
Tuan Setan tertawa lepas.
“Maafkan…,” suaraku tiba-tiba pecah menjelma tangis, “Maafkan…,” lalu aku bergegas pergi dengan Al-Quran yang kugamit di lengan kananku.
“Bakar saja Al-Quranmu!” teriak Tuan Setan yang kutinggalkan di gelap ruangan gudang. Lamat-lamat tawanya masih ku dengar di ujung jalan.
Aku mencari masjid; Aku ke mal, ke pasar, ke terminal, ke sekolah, ke mana-mana… Aku ingin mencari mushaf-mushaf Al-Quran yang disia-siakan. Aku ingin membersihkannya dari debu dan mengajak sebanyak mungkin orang membacanya. Aku masih bergegas dengan langkah yang galau. Aku ingin mengabarkan keagungan dan keindahan Al-Quran, tapi bagaimana caranya? Sedangkan aku sendiri tak memahaminya? Aku ingin menggaungkannya di mana-mana, tapi bagaimana caranya?
Aku terus bertanya-tanya bagaimana agar Al-Quran tak dibakar? Bagaimana agar Al-Quran tak terbakar? Bagaimana?
Ya, Tuhan akukah insan yang bertanya-tanya?
Ataukah aku Mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
Aduhai, akan ke manakah kiranya aku bergulir
Di antara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarah saja kebaikan yang pernah kubuat?
Ya Tuhan, nafasku gemuruh, diburu firmanmu!
[KH. Mustafa Bisri, Tadarus]
Aku terus menangis dalam langkah-langkah gelisah yang bergegas, haruskah aku melawan semua ini dengan amarah dan kebencian? Ataukah aku harus menunjukkan kepada mereka semua yang membenci Al-Quran bahwa sungguh mereka telah keliru? Haruskah aku kembali marah dan membakar kitab suci mereka di mana-mana, atau akan lebih baikkah jika aku jawab mereka dengan cinta dan kasih sayang—meneladani Muhammad dengan menunjukkan kepada mereka kebaikan cahaya Al-Quran karena sesungguhnya mereka hanya belum tahu!?
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bacalah!” tiba-tiba suara Tuan Setan datang lagi, “Biarkanlah mereka membakar mushaf sebab Al-Quran bukanlah kertas yang bisa mereka bakar. Bacalah Al-Quran hingga suaranya terdengar oleh hatimu, bergema di seluruh ruang kesadaranmu, maka kau tak akan kecewa mendapati mushaf-mushaf yang terbakar atau ayat-ayat yang teronggok di ruangan-ruangan tua berdebu buku. Sebab Al-Quran bukanlah mushaf, Al-Quran adalah semesta, nama di luar kata! Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.”
Aku terdiam mendengar kata-kata Tuan Setan yang terakhir, “Tuan Setan, sebenarnya siapakah kamu? Apa agamamu?”
Ia terkekeh, bahunya berguncang, “Akulah yang kau lihat dalam tidurmu: berlarian atau terbang atau tertawa tanpa suara, sesuatu yang lama kau idamkan tetapi lupa kau sapa. Akulah yang telah sengaja membakar Al-Quranmu!”
Ia terus terkekeh, terbatuk, lalu menghilang
"Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu"