Selasa, 23 Juni 2015

1001 Falsafah Jawa dalam Kehidupan Bag. 1

“1001 Falsafah Jawa dalam Kehidupan” Bag. 1
Oleh: Nata Warga

Salam Saudara semua yang dimuliakan Semua Mahluk,
Saya akan coba meluangkan waktu untuk menyampaikan pesan-pesan “Jawa” lewat falsafah nya, yang saya beri judul subjek “1001 Falsafah Jawa dalam Kehidupan”. Di perpustakaan kami ada sedikitnya 400 Falsafah atau lebih, saya akan mulai nulis sehari 1 atau minimal seminggu ada 3, semoga tidak bosan setahun baca ini terus bagi yang ikut di Mailing Diskusi Gantharwa. (Silahkan Gabung di diskusi_gantharwa+subscribe@googlegroups.com kirim email kososng)
Urutan dari falsafah nantinya bukan menujukan berseri atau bersambung, tapi saya tersentuh apa, itu yang saya tulis.
Semoga bisa bermanfaat,

1. “Holopis Kuntul Baris”
Artinya: Bergotong Royong / Bekerja Sama
Dalam hidup manusia yang saling berinterksi satu sama lain, yang mana setiap individu mempunyai keinginan masing-masing yang tentu tidak selalu selaras, maka Kerja Sama adalah cara efektif untuk kembali menyelaraskan keinginan secara kelompok besar dan tentunya dalam hal Benar, semua itu di lakukan dengan tulus tanpa pamrih. Jadi bisa di katakan Gotong royong adalah mempunyai suatu tujuan saling bahu membahu dilakukan dengan tulus tanpa kecurigaan.
– Dalam kehidupan berumah tangga, “Holopis Kuntul Baris” bisa berarti kedua individu yang se”iya” se”kata”, yang mana ini dapat di bangun lewat adanya komunikasi yang efektif.
– Dalam hubungan orang tua dengan anak-anak (Guru dan Murid) masing-masing menyelaraskan dan berlaku yang sama sesuai dari hakekat tujuan Hidup.
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), lebih mengangkat harkat dan martabat dari nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan itu adalah cinta kasih, cinta kasih wujudnya adalah selalu saling memaafkan (mengampuni) atau tolerasi, dan selalu saling memberi/murah hati.
2. “Bramara Mangun Lingga”
Artinya Laki-laki yang bertingkah laku berlebihan.
Laki-laki dikatakan adalah sosok yang lebih kuat (lambang “Lingga”) secara fisik dibandingkan dengan wanita, namun secara tidak langsung kebanyakan laki-laki secara psikis sangat lemah dibandingkan dengan wanita… Hal ini di tunjukan dari kesan laki-laki menutupi diri mereka dengan secara tampak luar bersikap/acting/laku berlebihan, terutama kepada lawan jenis apalagi menaruh hati pada wanita tertentu di sukai.
Tingkah berlebih baik secara verbal maupun non verbal bisa menjadi sangat tampak oleh para penonton di sisi lain.
Dari rayuan sampai cara berpakaian yang berlebih hanya semata-mata untuk menahlukan si wanita.
Secara spiritual, kecenderungan laki-laki ini juga di bawah saat ingin menahlukan seorang wanita dengan berlebihan berpenampilan dengan berpura-pura: berwibawa, santun terkesan bijak, seperti berhati legowo, ingin di tua kan. Yang akkhirnya tujuan untuk menjebak dan mengambil keuntungan dari si wanita. Itulah kira-kira kesan dari falsafah ini.
Maka orang tua (leluhur) mengajarkan untuk bahwa seorang wanita mencintai pria atau sebaliknya haruslah karena masing-masing dalam kejujuran yang bertanggung jawab.
Kejujuran bertanggung Jawab adalah bagaimana masing-masing bisa saling membangun bukan mengantikan.
– Dalam kehidupan berumah tangga “Bramara Mangun Lingga”, terjadi biasanya pria nya telah melakukan penyimpangan-penyimpangan atau tidak jujur bertanggung jawab, tingkah laku berlebihan baik secara agresif maupun defensif mengambarkan bahwa pria tersebut sedang bermasalah atau melakukan kesalahan.
– Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), ajaran untuk apa adanya, menjadi diri sendiri dan jujur bertanggung jawab (membangun orang lain), serta tidak minder yang akhirnya bertindak agresif, perlu di contohkan oleh orang tua atau Guru.
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), janganlah selalu menjadikan atau berlomba untuk membuat rumput kita lebih hijau dari tetangga (orang lain), tapi tingkatkanlah kwalitas keluarga (bermasyarakat) dengan niat saling membangun. karena kalau motivasinya adalah untuk pengakuan diri (rumput lebih hijau) maka akan terjebak bahwa terjadi tebar persona, dan bisa berdampak tebar persona pada lawan jenis yang berujung pada penyelewengan/penipuan.
3. “Kenes Ora Ethes”
Artinya: Sombong (harta) tapi Botol (Bodoh dan Tolol)
Antara kesombongan dan kebanggaan kadang menjadi sangat tipis perbedaannya, disaat seseorang menilai perkataan maupun perbuatan orang lain sebagai kesombongan jika hal yang dianggap berlebih dan melecehkan.
Saat ini banyak masyarakat yang mendadak kaya, karena atas dasar kekayaan ini, kadang akhirnya diikuti dengan sikap sombong yang cenderung melecehkan orang lain. Namun sangat disayangkan adalah kesombongannya adalah hal yang melekat diluar diri, tidak diikuti dengan pengetahuan atau info yang memadai atau cenderung sangat jauh ketinggalan dan bisa dikatakan Botol.
– Dalam kehidupan berumah tangga “Kenes ora kethes” adalah menyombongkan materi yang dimiliki tapi Botol dalam berumah tangga, seperti contoh
Istri menyombongkan perhiasan didepan temannya, namun soal merawat suami dan anak sangat Botol.
Suami menyombongkan karier/kekayaannya namun soal melindungi istri dan anak sangat botol.
– Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid). Orang tua/guru sering menyombongkan kehebatannya/skill, namun secara transformasi, menyalurkan, mengestafetkan keilmuan tidak dapat dilakukan karena kebodohan dalam menjaga hubungan orang tua dan anak atau guru dan murid.
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), tidak peduli dan cenderung masa bodoh karena ashik pada materi yang dimiliki.
4. “Mburu Uceng Kelangan Dheleg”
Artinya: Memburu hal kecil, kehilangan yang besar.
Perkembangan materialis dalam kehidupan semakin tinggi berbanding lurus dengan banyaknya diciptakan “tools” alat bantu kehidupan manusia yang serba otomatis, semua serba mudah dan gampang, bahkan bisa dikatakan tanpa “tools” penunjang ini manusia tidak bisa hidup.
Hal inilah yang kemudian memberikan input secara terus menerus pada generasi ke generasi untuk akhirnya sangat terantung materialis..
Pada akhirnya ini kemudian yang materialis lebih dikejar dalam hidup daripada yang mistis (kasunyatan).
Ukuran kwalitas hidup akhirnya pula disematkan berkwalitas atau tidak, dilihat bagaimana pencapaian materialis…
Banyak yang berpendapat, biar dapat materi dulu barulah dia mulai masuk pada kasunyatan. Dalam konteks ini sebenarnya adalah mereka telah mempertaruhkan hal besar (nyata) demi suatu hal kecil (maya/materi). Padahal materi dapat diciptakan kalau kita mencapai hal yang nyata ~ “cipto dadi nyato”
Saya tidak mengunakan istilah “korban” atau “berkorban” ataupun “pengorbanan” sesuatu yang besar demi hal kecil.
Karena “pengorbanan” dalam arti sebenarnya adalah kehilangan sesuatu yang baik demi sesuatu yang lebih baik, pada bahasa falsafahnya adalah mengambil kebijaksanaan.
Nah.. Falsafah diatas menujukan “ke-Botol-an” bukan kebijakan.
– Dalam kehidupan berumah tangga “Mburu Uceng Kelangan Dheleg” adalah bahwa lebih penting adalah kesatuan dan kemanunggalan diatas segala-galanya dari apa yang dikejar. Ada satu istilah bahwa kalau usaha atau karier mau bagus maka biasanya keluarga berhasil secara kwalitas.
Kerakusan demi egoisme kenyamanan sering mengorbankan kehidupan keluarga.
Saling membangun keluarga, maka hal yang lain (materi) akan mengikuti.
– Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), orang tua sering memaksakan anaknya untuk berprestasi berakedemik dari pada mengajarkan cara logika berpikir, atau lebih senang anaknya sanggup menghapal, daripada anak mengerti. Demikian guru menitik beratkan fanatisme ajaran daripada esensi ajaran.
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), nilai kemanusiaan harus diletakan diatas segalanya. Kehilangan nilai kemanusiaan demi pengejaran nilai lain adalah penurunan derajat kemanusiaan itu sendiri..
5. “Mburu Kidang Lumayu”
Artinya: mengejar hal yang sia-sia.
Terkadang dalam kehidupan kita, terutama saat kita banyak yang mempertahankan hidup materi dengan berjuang habis-habisan, sering kita terbentur, apakah sudah cukup atau berlebihankah kita mengejar hal-hal materi? Apakah ini bukannya sia-sia kalau memang materi adalah maya? Namun bagaimana tanggung jawab sebagai manusia yang harus menghidupi orang lain/keluarga minimal kepada orang tua, saat mereka membutuhkan bantuan kita dalam kehidupan materi ini.
Ukurannya menjadi sangat sulit sebagai penimbang akan cukup tidaknya dalam mengejar urusan materi. Masing-masing punya ukurannya sendiri..
Tips yang pernah diberikan adalah saat anda mengejar sesuatu materi, maka bersamaan itu buatlah kebajikan, maka itu tanda bahwa anda mengejar sesuatu dengan tidak sia-sia.. Jangan pula terbalik, melakukan kebajikan demi sesuatu.
– Dalam kehidupan berumah tangga “Mburu Kidang Lumayu”, bisa berarti jangan menyombongkan hal yang belum ada yang sedang kita kejar.
– Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), mengajarkan hal yang penting, akan menhindari pengejaran hal yang sia-sia dikemudian hari, hal yang penting adalah meletakan kebajikan diatas pengejaran materi.
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), jangalah berdusta dengan membohongin hal yang sebenarnya kita tidak punyai dan dengan memaksakan diri.
6. “Tinggal Nglanggancolong Playu”
Artinya: Menghindari Tanggung jawab.
Kepasrahan atau sumeleh dikatakan sebagai ilmu tertinggi, dan hampir dari semua memakai ilmu ini untuk secara halus menghindari tanggung jawab.
Adalah kepasrahan yang semu jika sesuatu telah terjadi dan kita katakan pasrah saja, yang tentu kita lalu beranggapan: mau apalagi, memang sudah demikian adanya, pernyataan demikian justru menjerumuskan kita menjadi manusia yang tidak bertanggung jawab.
Tanggung jawab adalah langkah awal dari suatu kepasrahan yang total / Sumeleh. Maksudnya adalah bahwa tanggung jawab atau kepasrahan ditaruh diawal suatu kejadian, bukan diakhir atau hasil dari suatu kejadian. Maka kepasrahan adalah suatu laku yang aktif dalam menanggung semua laku kita (jawaban), sehingga inilah yang dinamakan tanggung jawab.
Namun yang sering kita jumpai justru pasrah ditaruh setelah ada kejadian yang sifatnya menderita, kita berseru:” ya.. Pasrah saja deh..” Yang mana ini adalah laku pasif yang menhindari tanggung jawab.
– Dalam kehidupan berumah tangga “Tinggal Nglanggancolong Playu”, adalah sikap yang saling menhancurkan, bisa terjadi karena salah satu atau berdua tidak punya kemauan yang baik untuk tetap manunggal.
Wanita sering memposisikan diri atau diposisikan dalam kepasrahan semu (menghindari tanggung jawab) lantaran adanya budaya Patriakat (laki lebih unggul), akhirnya punya sikap mental bahwa hidup hanya jalani saja, pasrah saja, emang sudah demikian. Dan celakanya banyak para laki yang memanfaatkan cela ini, dan akhirnya berujung egoisme masing-masing.
Sikap baik pria dalam budaya patriakat harusnya mensetarakan wanita, dan parsa wanita harus mensejajarkan dalam kedudukan peran masing-masing, sehingga saat melangkah akan betul pasrah dan bertanggung jawab.
– Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), contoh atau teladan yang benar dari orang tua atau guru adalah hal yang utama dalam mengajarkan bertanggung jawab atau pasrah yang benar. Dimulai dari melakukan apa yang diajarkan dan dimegerti oleh sang guru.
Namun murid juga di harapkan agar belajar untuk melakukan yang diajarkan, tidak hanya dari contoh laku yang diberikan.
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), yang merasa mengerti lebih aktif berlaku tanpa perlu mendakwa, menuntut, menghakimi, dan akhirnya menghukum.
Yang merasa tidak mengerti, agar belajar dan lakukan yang dimengerti saja. Bertanggung Jawab dimasyarakat adalah memiliki sikap mental untuk saling membangun dalam segala perbuatan yang akan dimulai.
7. “Tuna Sathak Bathi Sanak”
Artinya: Kehilangan harta, tambah saudara.
Dewasa ini, hubungan dan status sosial dalam berinteraksi dengan orang lain diukur dari harta, harta yang dimaksud antara lain gaya hidup, jumlah kekayaan, jabatan atau posisi, backing.
Interaksi manusia sudah bergeser dari tujuan yang tadinya saling asah asih asuh, telah menjadi mencari komunitas yang sama, yang sewarna, atau membentuk kelompok elit.
Hubungan persaudaraan sebenarnya begitu penting bahkan diatas hal materi, atau bisa dikatakan hubungan persaudaraan adalah hubungan kemanusiaan, dimana masing-masing memanusiakan yang lain atau saling menghidupi.
Menjunjung tinggi kerelaan dengan bermurah hati demi kemanusiaan adalah sikap memiliki welas asih.
Pertanyaannya adalah seberapa besar saya harus bermurah hati? Jawabnya adalah berikanlah sampai anda sudah mulai merasa keberatan (terbebani), dan tambahkanlah semangat lebih, melebih diatas keberatan.
– Dalam kehidupan berumah tangga, “Tuna Sathak Bathi Sanak”, tidak dalam kategori pendapat yang kita cukup kita kenal adalah uang tidak mengenal saudara, uang bisa membeli teman (saudara). Namun adalah ada saatnya kita harus melepaskan keterikatan dengan harta demi menjujung kemanunggalan dalam keluarga, janganlah jadikan harta menjadi ukuran atau timbangan.
– Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), mengajarkan untuk senantiasa bermurah hati, mementingkan kesatuan dalam persaudaraan, walau harus kehilangan harta benda.
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), menjunjung tinggi saling asah asuh asih melebihi berkompok sesuai latar belakang jauh lebih penting untuk membangun suatu persaudaraan yang universal.
8. “Sanding Kebo Gupak”
Artinya: Terpengaruh jelek karena lingkungan yang jelek.
Manusia sejarahnya dipengaruhi 4 hal yang membantuk karakter diri mereka, ke-4 hal tersebut adalah dari sejak kecil dipengaruh oleh orang tua, beranjak remaja sampai dewasa mulai dipengaruhi oleh lingkungan, berikutnya lalu akan sama-sama dipengaruhi oleh keyakinannya (agama/kelompok/organisasi/pandangan/ideologi), dan yang terakhir di pengaruhi oleh dirinya sendiri yang apa adanya.
Kalau kita masih merasa bisa di pengaruhi, janganlah coba-coba untuk masuk suatu lingkungan yang mau kita rubah, karena kita akan terpengaruh dan berubah, apalagi lingkungan tersebut adalah lingkungan yang penuh kejelekan.
Induksi yang di terima manusia sepanjang hidupnya, mempengaruhi manusia dalam memiliki keinginan (impian) sampai kepada suatu tindakan. Lain halnya pada suatu saat manusia terbebas dari pengaruh atau induksi, dia sendiri yang mengambil keputusan secara sadar, yang benar maupun yang jahat.
Ada istilah di dunia marketing, orang sukses bergaul dengan orang sukses, orang gagal bergaul dengan pencundan… Ini juga sebagai gambaran bahwa karakter manusia sangat tergantung lingkungan yang mempengaruhi, atau lingkungan mempengaruhi manusia..
Nah.. lalu kalau lingkungan sudah seperti kumbangan, apakah lantas kita kebagian jeleknya saja?
Baik secara langsung dan tidak maka mau tidak mau memang demikian itu terjadi, namun permasalahannya pengaruh kuat yang ke-4 yaitu dari dirinya sendiri yang apa adanya, suatu saat akan muncul, disaat itulah seseorang manusia memilih untuk tetap dalam pengaruh lingkungan atau menjadi berbeda (ngeli) positif dengan menyempurnakan pengertian dia (cara berpikir/kesadarannya) untuk menjadi unik tanpa pengaruh.
Menjadi manusia yang beperanan utama itulah hakekat dari hidup secara duniawi. Yang menentukan harga diri manusia adalah diri nya sendiri.
– Dalam kehidupan berumah tangga, “Sanding Kebo Gupak” masing-masing bertanggung jawab untuk bisa mempengaruhi secara positif terus menerus, jangan sampai memberi pengaruh yang jelek terutama atas dasar ketidak percayaan, ketidak terbukaan, sehingga komunikasi menjadi mandek.
– Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), orang tua atau guru diharapkan menjadi katalisator positif agar anak atau murid bisa menjadi manusia menemukan diri mereka apa adanya agar bertumbuh menjadi pribadi yang unik. Jika orang tua atau guru bersifat seperti memerangkan diri sebagai Durno yang mempersonifikasikan hal jelek, maka anak atau murid haruslah menjadi bimo yaitu “sapa temen tinemu”
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), menjaga kondisi yang tetap kondusif dilingkungan masing-masing dan juga lingkungan dalam suasana positif terhindar dari gosif, bisa akan membangun karakter yang positif secara kolektif.
9. “Jalma Angkara Mati Murka”
Artinya: “Kemalangan karena tindak anarkis sendiri”
Secuil bentuk emosional adalah senjata penghancur ampuh dan efektif yang sangat tradisional sejak manusia ada. Penghancuran ini lebih ditujukan kepada diri sendiri, memang kadang kita melihat bahwa tindakan yang agresif dengan kemarahan, kebengisan, buas, yang menjadi korban adalah orang lain, namun sebenarnya seperti bumerang yang akan berbalik dengan kekuatan yang sama atau lebih karena efek dorongan hal lain.
Untuk itulah dibutuhkan suatu bentuk “Kesadaran” dan “Pengamatan” sehingga emosional tidak menjadi energi agresif yang mendorong terjadinya kemalangan pada diri sendiri yang terus menerus baik saat ini, sampai kedepan maupun kehidupan ini sampai kehidupan berikutnya.
Angkara Murka akan merusak Kesadaran Roh (Sukma) Sejatinya manusia, disebut merusak artinya mundurnya kesadaran akan kemanunggalan/Unity, lalu mundurnya welas asih/Budhi, lalu mundurnya kemampuan/potensi, dan akhirnya menjadi perusak.
– Dalam kehidupan berumah tangga, “Jalma Angkara Mati Murka”, menghindarilah cara berpikir yang mencela, menghindarilah dengan berkata-kata mengitimidasi pasangan, menghindarilah berlaku kasar. Lebih menjaga “Tata Basa lan Tata Laku”
– Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), orang tua / guru yang welas asih bukan dilihat dari usia nya, tapi bagaimana mereka bisa menjaga dan menyelaraskan kawruh (pengertian) mereka dengan laku mereka. Anak / Murid dalam menghargai orang tua/guru bukan dengan memuji-muji sambil berlaku anarkis, tapi yang menerapkan ajaran welas asih/budhi-lah.
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), saling selalu memaafkan/mengampuni kesalahan dari orang lain, dan berlomba-lomba menjadi yang utama menjunjung kesatuan ukuran dalam menciptakan kemanunggalan akan menghindari dari tindakan anarkis. Tidak hanya menghargai perbedaan tapi kita harus melangkah menjadi Bhinneka Tunggal Ika – We are One – No you no me but Us – Aku adalah engkau dan engkau adalah aku.
10. “Ciri Wanci Lali Ginawa Mati”
Artinya: Hal buruk yang hanya bisa dirubah setelah mati.
Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Pribahasa ini akrab dengan kita sebagai nasehat untuk manusia agar berbuat baik agar namanya bisa dikenan dan menjaga nama baik keluarga.
Ada juga yang mengatakan, ukuran hebat tidaknya seseorang (bisa positif – bisa negatif), bukan dilihat dari berapa banyak orang yang datang menghadiri undangan saat perkawinannya atau mengawinkan anaknya, tapi hebat tidaknya adalah dilihat dari banyak tidaknya yang datang melayat saat dia mati.
Terlepas dari kenangan orang lain dan banyak penghargaan yang diberikan kepada yang sudah meninggal, yang lebih penting adalah apakah kita pribadi telah meninggalkan hal benar/budhi bagi kehidupan orang lain? Dan hal benar tadi sebagai kesadaran dalam perjalan Roh pribadi sendiri.
Jika hal buruk yang kita lakukan, tidak hanya membuat kita terhambat, tapi lebih pula mempengaruhi orang lain. Sehingga jika sepanjang masih hidup maka kita masih berlaku buruk, hal ini akan membuat menjadi permanen sehingga sampai tidak dapat diubah, maka untuk orang lain, pengaruh buruk bisa jadi baru hilang kalau kita sudah mati, dan hal buruk akan diperbaiki jika kita alami kematian fisik untuk kembali belajar lagi.
– Dalam kehidupan berumah tangga, “Ciri Wanci Lali Ginawa Mati”, mumpung kita masih hidup dan bersama dengan pasangan, hendaklah bisa merubah segala hal buruk yang dapat menyakiti pasangan, baik secara pikiran, perkataan, maupun tingkah laku.
– Dalam hubungan orang tua dan anak (Guru dan Murid), pengaruh hal buruk dari orang tua / guru sangat dapat membuat anak/murid bertingkah buruk, dan kadang harus menunggu orang tua / guru mati dulu, baru sang anak/murid bisa terbebas dari doktrin buruk.
– Dalam hubungan keluarga dengan keluarga lain (bermasyarakat), tinggalkanlah hal baik, maka akan membangun masyarakat yang baik di generasi yang akan datang.
Semoga Bermanfaat…
Berkah Dalem Gusti
"Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu"