Tampilkan postingan dengan label Lirik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lirik. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2015

Ojo Sembrono - Akhlis Suryapati feat Santri Pesisir

http://www.indonesianfilmcenter.com/images/profile/00f7ad5a917d5af02413.jpg 
La ilaha illallah al malikul haqqul mubin 
Muhammadur rosulullah 
Shodiqul wa"dil amin

Ojo podo sembrono
Kowe urip ono dunyo
Malaikat juru pati
lirak lirik ngincer siro
lirikane malaikat arep nyabut nyowo iro

Le nyabut angenteni dawuhe kang Moho Mulyo

Ojo podo sembrono
Mentang-mentang lagi kuoso
Tembe mburi bakal ciloko
Amergo kokean duso
Dosamu rakiro-kiro
Gawe rakyat kabeh sengsoro
Mengko bakale kesikso ono dunyo lan neroko
 
Ojo podo sembrono
Ngaku-ngaku wakile rakyat
Liyo dino mesti kualat
Yen kowe tansah khianat
Khianatmu sak arat-arat
Kabeh rakyat dadi melarat
Sak durunge menyang akhirat
Luweh becik cepeto tobat



La ilaha illallah al malikul haqqul mubin 
Muhammadur rosulullah 
Shodiqul wa"dil amin

La ilaha illallah al malikul haqqul mubin 
Muhammadur rosulullah 
Shodiqul wa"dil amin







Senin, 03 Agustus 2015

Hanacaraka (Cak Nun)

Hasil gambar untuk hanacarakaSyair dari Cak Nun, yang mungkin banyak yang belum pernah dengar...
Monggo disimak...

Kae ketoke koyo babi, jebul tak sawang-sawang babi tenan
Hanacaraka Datasawala, podho pekok o monggo modaro
Lha nek sing ning kono kae kirik opo asu, jebule nek ora asu yo kirik
Hanacaraka Datasawala, podho pekok o monggo modaro

Waji'an waji'an kae pancen, waji'an kae pancen waji'an
Gusti Allah ngentukke kwe misuh opo ora, nek pancen atimu loro banget suwe banget misuh kwi wajib hukume
Hanacaraka Datasawala, podho pekok o monggo modaro
Opo bedane rai karo silit nek rai dadekne silit, nek silit dadekne rai
Hanacaraka Datasawala, podho pekok o monggo modaro

Bajinguk bajinguk kae pancen, bajinguk cen pancen podho munyuk..

lirik ojo ngece


ojo ngece karo wong ora ndue
rojo brono yen mati ora di gwo
bebasan urip mong mampir ngombe
ngno kui jare pini sepuh kae

yen numpak sepur asepe metu nduwur
tiwas ajor memur yen awak ora di ator
yen numpak motor asepe metu ngisor
urip nenx ngalam ndonyo kudu sugih andap asor
nex numpak becak asepe metu telak
ojo ngguyu ngakak yen urip lagi kepenak
nek numpak andong asepe metu mbokong
ojo plenggang plenggong mengko mundak koyo grandong

dadi wong ojo rumongso biso
nanging uwong seng biso rumongso
wong seng becik seng keno kebecikane
ngono kui jarene simbah ku dewe

rujak nanas pantes di wadai gelas
tiwas adem panas sek di gagas ora waras
nek rujak dondong pantes di wadai lodong
ojo plenggang plenggong mengko mundak kyo grandong
nek rujak mayet lalapane rumah sakit
binggung golek duet ngurusi barang kejepit

dadio wong senx becik
ojo do syirik
opo2 marai mangkel
mengko malah gor dadi nggrundel
tiwas ngalah malah do ngeyel
mulakne kowe manuto wong tuo
ojo pisan2 kowe neko2
jaman saiki sithik2 metu ragad
uripe ora tentrem malah kowe dadi njepat
mulakno2 rasah do ngeyel
wong tuo le ngandani angel
bola bali kowe nglarani ati
wong tuo mu dadi loro ati
ngalor ngidul ngulon ngetan
aq wes kenthir ra iso miker
ngiwo
ngiwo
kluer

Rabu, 29 Juli 2015

Lirik, Arti dan Makna Lagu Bangbang Wetan

https://pbs.twimg.com/profile_images/1389536228/305671932_400x400.jpgArti dan makna lagu Bangbang Wetan menyimpan nilai sejarah panjang bagi Nusantara, khususnya Jawa Timur yang dulu dikenal sebagai negara Bang Wetan. Dalam perjalanannya, Lagu Bangbang wetan seolah mati ditelan zaman. Namun, saat ini lagu Bangbang Wetan kembali muncul dan cukup populer bersamaan dengan popularitas grup musik Kiai Kanjeng yang getol membawakan lagu ini.
Bahkan, Muhammad Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun menamakan jamaah pengajiannya di Jawa Timur dengan sebutan "Bangbang Wetan". Cak Nun sendiri bersama Kiai Kanjeng melakukan aransemen lagu Bangbang Wetan dengan komposisi yang menarik dipadu dengan sisipan kata "Lingsir wengi" di tengah-tengah lagu Bangbang wetan.

Lingsir wengi yang dimaksud bukan lingsir wengi sebagaimana lagu yang sering kita dengar, tetapi lingsir wengi hasil karya Muhammad Ainun Najib (Cak Nun). Jadi, kolaborasi keduanya menghasilkan karya seni suara yang bagus, indah, dan enak didengar. Sebuah lagu khas Nusantara-Jawa yang perlu dibudayakan dan dilestarikan.

Untuk mengupas arti dan makna lagu Bangbang Wetan, pertama kali kita mencoba untuk mengartikan lagu Bangbang wetan. Setelah itu, baru kemudian kita memaknai lagu Bangbang Wetan. Memaknai yang dimaksud membongkar kontekstualisasi hikmah, manfaat, dan pesan-pesan tersirat dalam lagu Bangbang Wetan. Sebelumnya, berikut ini adalah lirik lagu Bangbang Wetan yang sudah dipadu dengan kalimat lingsir wengi.


Lirik lagu Bang bang Wetan

Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat,
Bang-bang wus rahina, bang-bang wus rahina,
Srengengene muncul, muncul, muncul, sunar sumamburat.
Cit-cit cuwit-cuwit, cit-cit cuwit-cuwit,
cit cuwit rame swara ceh-ocehan.
Krengket gerat-geret, krengket gerat-geret,
Nimba aneng sumur, adus gebyar-gebyur.
Segere kepati, segere kepati, kepati bingah,
Bagas kuwarasan.

Arti lagu Bangbang Wetan
Fajar telah tiba,
Mataharinya terbit, sinarnya memancar (bersemburat),
Bercicit-cicit, ramai suara burung-burung pada bersiul,

Berderak-derik (suara orang menimba air dengan timba yang bertali),
Menimba air di sumur, mandi (dengan suara) byar-byur,

Segarnya luar biasa, luar biasa senangnya,
Sehat wal afiat

Makna lagu Bangbang Wetan
Makna lagu Bangbang Wetan tidak lepas dari ajaran Islam ataupun ajaran-ajaran keagamaan lain yang mengajak kita untuk selalu memiliki rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Pencipta, Pengasih, dan Penyayang. Lagu asal negeri Bang Wetan (Jawa Timur) ini menceritakan sebuah kisah kehidupan sebuah masyarakat yang ditandai dengan permulaan terbitnya matahari dari ufuk timur.

Cahaya sinar matahari yang menyemburat dari ufuk timur disusul dengan siulan burung-burung yang tengah menyambut pagi. Bersamaan dengan itu, suara "krengket gerat-geret" yang berasal dari suara warga tengah menimba air di sumur untuk keperluan mandi. Dengan mandi yang diilustrasikan dengan suara "byar-byur" menjadi satu simbol kebahagiaan dan rasa syukur masyarakat kepada Allah Yang Maha Esa.

Dengan mandi di pagi hari yang akan mengawali masyarakat untuk beraktivitas tersebut, badan menjadi segar dan senang. Terlebih, mandi di pagi hari membuat tubuh menjadi segar (fisik) dan menyenangkan (hati dan pikiran) yang pada akhirnya membuat kita menjadi sehat wal afiat. Sehat jasmani (fisik) dan rohani (psikis).

"Kalau dilihat dari kosakata dan bendahara katanya, lagu Bangbang Wetan memiliki arti dan makna demikian. Tafsir ini sebatas saya lakukan menggunakan pendekatan linguistik dan sejarah. Sebab, saya juga pernah merasakan hidup di lingkungan desa pada era 90 an di mana waktu itu masyarakat masih memiliki tradisi di pagi hari yang mirip dengan apa yang dideskripsikan lagu Bangbang Wetan," ujar Lismanto, CEO Islamcendekia.com saat diwawancara lewat telepon, Minggu (28/9).

Lagu Bang-bang wetan karya Kiai Kanjeng yang digawangi oleh Cak Nun pada akhir lagu ditambahkan pada lirik lagu sebagai berikut:

Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo.
Bebendu pepeteng tan keno ati niro, bangbang wetan semburato.

Arti dan makna lagu lingsir wengi tan kendat
Pada malam yang tidak ada habisnya, segala marabahaya tidak menjadi persoalan.
Amarah dan kegelapan tidak akan mengenai hati kita, cahaya merah (baca: matahari) dari timur, muncullah.

Saat ini, banyak sekali orang yang menyukai lagu bang-bang wetan. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya orang yang mencari lirik lagu bang bang wetan, download mp3 bangbang wetan, dan download video bang bang wetan. Demikian lirik, arti dan makna lagu Bang Bang Wetan, semoga bermanfaat.

Penulis : Prabu Jayanegara
Penafsir lagu : Lismanto

Rabu, 17 Juni 2015

Lubang Di Hati

Kubuka mata dan kulihat dunia 
Tlah kuterima anugerah cintaNya

Tak pernah aku menyesali yang kupunya 
Tapi kusadari ada lubang dalam hati

Kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini 
Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati

Apakah itu kamu apakah itu dia 
Selama ini kucari tanpa henti

Apakah itu cinta 
apakah itu cita 
Yang mampu melengkapi lubang didalam hati

Kumengira hanya dialah obatnya 
Tapi kusadari bukan itu yang kucari

Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan 
Dan kuyakin kau tak ingin aku berhenti

Apakah itu kamu apakah itu dia 
Selama ini kucari tanpa henti

Apakah itu cinta apakah itu cita 
Yang mampu melengkapi lubang didalam hati

Apakah itu kamu apakah itu dia 
Selama ini kucari tanpa henti 

Apakah itu cinta apakah itu cita 
Yang kan mengisi lubang didalam hati

Selasa, 16 Juni 2015

Lirik Titi Kolo Mongso - Suatu Ketika, apakah itu yang Ditunggu Manusia?

http://d.gr-assets.com/authors/1268227118p5/693487.jpgSetelah membaca salah satu buku kumpulan artikel saya, yang berjudul "Ilmu Kearifan Jawa", salah seorang sahabat meminta pendapat saya tentang tafsir lagu Sujiwo Tejo berjudul "Pada Suatu Ketika". Sebuah lagu yang luar biasa. Ketika pertama kali menjadi hit kala itu, bahkan lagu ini dan seluruh lagu di album yang sama, selalu saya putar berulang-ulang. Saya merasa ada sesuatu dalam lagu ini. Sebuah renungan yang juga terdapat pada seluruh lagu dalam satu album itu. Mas Sujiwo Tejo memang sosok yang fenomenal. Tapi entahlah, apakah lagu yang dibuat itu memang sengaja dicipta untuk dimaknai dan direnungi begitu dalam, ataukah dia lebih berfokus hanya pada estetika vokal konsonan pemilihan kata. Tapi yang jelas, bagi saya, lagu ini mengandung makna lebih dari sekedar apa yang ditulis dan dinyanyikan. Bahkan lebih dari apa yang sudah terdengar ditelinga. Tafsir bebas itu coba saya tulis dalam artikel berikut:


Pertanyaan pada judul diatas sebenarnya bisa sangat penting untuk di-‘ingin-tahu-i’ bagi seharusnya seseorang yang mau untuk memahami hakekat hidupnya di dunia ini. Pertanyaan ini muncul begitu saja setelah saya membaca kembali, mendengar, merenung atas lagu yang dicipta dan digubah begitu luar biasa oleh Sujiwo Tejo. Lagu berjudul ‘Pada Suatu Ketika’.

Lagu ini dibuka dengan semacam kegelisahan ketika orang melihat bahwa segala macam angkara murka, pertikaian, kekerasan di atas bumi ini, mengapa tak juga segera berakhir. Sepertinya tak akan pernah berakhir. Ketika disana terdapat sebuah perbedaan pendapat dan sikap dalam melihat suatu hal, maka potensi pemaksaan kehendak, yang bisa jadi berujung pada kekerasan akan selalu muncul. Mungkin itulah yang disebut angkara murka. Sebuah kegagalan seseorang dalam memahami hakekat hidupnya, saat dia tidak bisa untuk memunculkan semangat berbagi dalam dirinya. Sikap berbagi untuk hidup bersama dalam satu dunia di atas bumi ini.

Wong takon 
wosing dur angkoro
(Orang-orang bertanya kapan angkara murka berakhir)
 
Antarane riko aku iki
(Di antara kau dan aku)

Sumebar ron-ronaning koro
(Tersebar daun-daun kara)

Janji sabar, sabar sak wetoro wektu
(Bersabarlah untuk sementara waktu)

Maka ketika sebagian orang bisa melihat bahwa hal itu mungkin tak akan pernah berakhir, hakekat kemanusiaan yang ada dalam manusia yang sadar, akan membawa kepada sikap sabar. Karena sikap sabar, pada dasarnya bisa diterjemahkan sebagai suatu pilihan sikap bagi seseorang yang mampu untuk memunculkan semangat berbagi hidup di dunia ini ketika menghadapi dan bertemu, hidup berada di tengah orang-orang yang tidak mampu berbagi.

Dan harapan pada suatu saat nanti akan datang suatu masa di mana semua orang akan meninggalkan angkara murka dan mampu untuk berbagi. Pilihan untuk bersabar dan selalu memupuk harapan tentang suatu masa dimana angkara murka akan hilang di atas bumi ini.


Kolo mangsane, ni mas
(Suatu ketika, dinda)

Titi kolo mongso
(Pada suatu ketika)


Saya sendiri, ketika mencoba menggapai makna kata “Titi Kolo Mongso”, tafsir itu sepertinya tidak bisa diterjemahkan dengan kalimat yang bisa dimaknai sederhana seperti “Pada suatu Ketika”. Walaupun saya melihat Sujiwo Tejo sendiri sepertinya sampai kepada ‘jalan buntu’ dalam rangka mencari terjemahan kata ‘Titi Kolo Mongso’ ini dengan ‘terpaksa’ harus membawa makna itu sehingga menjadi sangat biasa, dengan terjemahan ‘Pada Suatu Ketika’.

‘Titi Kolo Mongso’ bagi saya tidak sekedar upaya menyampaikan maksud akan dimensi waktu ‘Pada Suatu Ketika’. ‘Titi Kolo Mongso’ juga berisi semacam pengharapan, terkadang mengandung sebuah janji, atau pun bisa dipahami sebagai sebuah ancaman. Kalimat ini tidak sekedar bicara tentang waktu. Tapi juga berusaha bercerita tentang keadaan akhir. Imajinasi tentang ‘keadaan akhir’ bisa dilihat sebagai sebuah pengharapan ketika hal itu penuh berisi keadaan yang sangat kita inginkan. Misalnya keadaan akhir tentang keindahan, ketenangan, berakhirya angkara murka, dan sebagainya. ‘Titi Kolo Mongso’ bisa dilihat dari perspektif itu.

Tapi dilain pihak, ‘Titi Kolo Mongso’ bisa dilihat sebagai sebuah ancaman, atau bahasa halusnya adalah pengingat bagi kita semua manusia, ketika keadaan akhir itu bisa dilihat sebagai sebuah ujung berjalanan yang muram. Imajinasi buruk tentang sebuah kenyataan ketika semua orang justru terseret pada sikap angkara murka. Perpecahan, pertentangan, kekerasan, pertikaian, pembunuhan, semangat merusak, tidak semakin berkurang, tapi semakin bertambah, dan akan berhenti ketika salah satu pihak mati. Dan karena manusia tidak mungkin hidup sendiri, ketika salah satu mati sehingga satu manusia menjadi sendiri, maka tak lebih dia pun mati. Perspektif ini juga bisa dilihat sebagai “Titi Kolo Mongso”.

Sehingga ketika pertanyaan itu menyeruak: Apa yang sebenarnya ditunggu manusia? Maka jawabannya bisa sebuah “Titi Kolo Mongso” yang tidak bisa diterjemahkan menjadi sesuatu yang terlalu sederhana semacam “Pada Suatu Ketika”.


Pamujiku dibiso
(Doaku semoga)

Sinudo kurban jiwanggo
(Semakin berkurang korban jiwa raga)

Pamungkase kang dur angkoro
(Pengakhir angkara murka)

Titi kolo mongso
(pada suatu ketika)


Sujiwo Tejo mencoba memberikan kita gambaran cakrawala yang lebih cerah tinimbang kita terlalu murung memikirkan tentang masa depan yang muram. Dia berusaha melihat “Titi Kolo Mongso” pada sebuah ujung pengharapan yang indah. Dia percaya bahwa suatu ketika angkara murka akan berakhir. Walaupun akhir ini kita bisa melihat dari dua perspektif. Akhir dilihat pada sebuah ruang lingkup fisik dunia ini, dimana semua orang menghentikan angkara murka dan mulai bisa hidup berbagi. Atau perspektif akhir dilihat dari sisi ruang lingkup semesta tiap diri sendiri, dimana akhir angkara murka ditandai dengan kematian –karena setiap orang pasti mati- tiap individu.

Dan saya juga melihat sebuah janji yang setengah hati, ketika diakhir bait lagu, masih juga terdapat kata “Titi Kolo Mongso”. Ini seperti analogi seseorang yang berjanji begitu rupa tentang segala hal keindahan kepada pasangannya, entah itu hidup bahagia, selalu mencinta, setia selamanya. Tapi diakhir kalimat tersembul kata singkat “Kalau bisa..”.

Sebuah janji setengah hati yang bisa saya pahami karena pada dasarnya manusia selalu harus bisa untuk berharap tentang sebuah keadaan baik di ujung perjalanan nanti. Tapi melihat segala hal di sekitar kita sepanjang perjalanan hidup ini, terkadang mungkin wajar bila kita pun ragu apa hal itu suatu saat akan terjadi. Mungkin Suatu Ketika Nanti,.. Titi Kolo Mongso. Mungkin karena itu juga, Sujiwo Tejo mendendang lagu ini dengan alunan yang terasa murung.



Pitoyo Amrih
Tafsir bebas atas lagu "Pada Suatu Ketika" dicipta dan dilagukan oleh Sujiwo Tejo.
Video diunggah oleh javaforester, courtesy : youtube.com

Memaknai Lagu “Ojo Ngece”

Suatu kali saya mendengar sebuah lagu yang kebetulan saya belum pernah mendengarkannya. Ya, lagu itu dinyanyikan dengan mesra oleh sekumpulan pengamen jalanan dalam bus kota ketika saya menuju kampung halaman. Memang terkadang musisi jalanan menyanyikan lagu-lagu yang tujuannya baik dan menyadarkan pendengarnya dengan pesan-pesan yang mengalir. Itulah teladan musisi jalanan yang menurut saya keren dan ini adalah salah satu yang akan saya ceritakan di tulisan ini.
Judul lagu yang dibawakan adalah “Ojo Ngece” pada waktu itu. Dalam Bahasa Indonesia berarti “Jangan Menghina”. Bagi yang paham Bahasa Jawa, sekilas jika mendengar kata tersebut maka sudah barang tentu berisi petuah yang mengajak pendengar untuk tidak saling mengejek/menghina. Nada yang dihasilkan dari lagu tersebut adalah pop-rap-JawaHipHop karena diiringi oleh suara alunan gitar, kencrung, dan tabung pipa yang bisa ditabuh.
Yang saya suka dari lagu ini yaitu keindahan liriknya yang ditulis dengan disisipi parikan Jawa (pantun Jawa). Berikut lirik dan penjelasan yang saya peroleh ketika mendengarkan lagu tersebut.


Ojo ngece karo wong ora nduwe
Rojo brono yen mati ora digowo
Bebasan urip mung mampir ngombe
Ngono kui jare bini sepuh kae
Bait ini mengandung maksud bahwa sebagai manusia yang memiliki rasa toleransi, janganlah menghina kepada orang yang tidak punya (serba kekurangan). Karena pada dasarnya keburukan/kejelekan seseorang itu ketika meninggal tidak akan dibawa sebagai amalan. Kita tentu tahu jika kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan di akhirat adalah kekal. Petuah tersebut seringkali kita dapati dari perkataan bijak orang tua kita, termasuk guru-guru kita. Maka dari itu, marilah kita bersama saling menghargai kepada semua orang, siapapun itu, seburuk apa pun mereka.
Numpak sepur asep’e metu nduwur
Tiwas ajur mumur yen awak ora diatur
Nek numpak motor asep’e metu ngisor
Urip neng alam ndonyo kudu sugih andhap asor
Bait ini mengajak kita untuk selalu menata diri, baik untuk diri sendiri maupun dalam pergaulan. Menata diri yang dimaksud adalah bisa menempatkan diri di mana pun kita berada. Ada saatnya kita menahan ego kita, tetapi ada juga saatnya kita melepas ego kita. Perasaan dan temperamen orang berbeda-beda, maka akan lebih baik jika kita saling pengertian (andhap asor). Ibaratnya jika kita ingin dihormati dan dimengerti orang lain, mulailah dari diri sendiri.
Nek numpak becak asepe metu tengah
Ojo ngguyu ngakak yen urip lagi kepenak
Nek numpak andong asep e metu bokong
Ojo banter-banter ngko mundak koyo grandong
Bait ini mengungkapkan makna kepada kita semua untuk tidak bersikap sombong ketika sedang mendapatkan kebahagiaan/nikmat. Berbagilah kepada mereka yang sedang ditimpa musibah/kekurangan. Janganlah menganggap remeh mereka yang memiliki keterbatasan. Bukankah kita hidup agar bisa diterima semua orang dan bukan jadi sosok yang ditakuti seperti ‘grandong’?
Dadi wong ojo rumongso biso
Nanging uwong sing biso rumongso
Wong sik becik sing keno kebecikane
Mulo kui jarene simbahku dewe
Bait ini memberi pelajaran kepada kita sekalian bahwa jadilah manusia yang tidak sok tahu, tetapi berusaha untuk tahu sesuatu yang benar-benar tidak diketahui. Tentu seringkali kita mendapati kesan seseorang yang bertindak sok tahu, namun pada akhirnya dia membuat kesalahan yang fatal. Melihat itu semua, maka akan lebih baik jika kita bertindak baik dan jujur. Kebaikan dan kejujuran seseorang itulah yang akan membangun citra seseorang yang ‘sok tahu’ dan ‘benar-benar tahu’.
Rujak nanas pantes’e wadahi gelas
Tiwas adem panas sik digagas ora waras
Nek rujak dondong pantese wadahi lodong
Ojo plenggang plenggong mengko mundak koyo grandong
Bait di atas mempunyai makna bahwa sebagai manusia yang bijak, janganlah kita plin plan dalam menilai suatu hal. Pikirkan baik-baik keputusan kita dengan memandang perasaan orang lain. Membuat orang lain tak enak hati bukanlah pilihan yang tepat jika kita masih benar-benar menggunakan akal sehat (waras). Orang yang plin plan disini diibaratkan seperti ‘grandong’ yang mempunyai penampilan serba tidak jelas.
nek rujak mayit lalapane rumah sakit
bingung golek duit ngurusi barang gejepit
Bait di atas merupakan bagian reff dari lagu ‘Ojo Ngece’ ini, memberikan nasehat kepada pendengar bahwa orang-orang yang tidak punya pekerjaan terpaksa harus menjual barang-barang bekas. Kita yang sudah mempunyai pekerjaan dengan gaji yang sedikit saja, terkadang lupa bersyukur. Lihatlah mereka yang masih belum diberi kesempatan untuk bekerja, yang mana harus menghidupi penghidupannya sekarang dan kelak.
Dadio wong sing becik
Ojo do sirik
Opo opo marai mangkel
Mengko, malah koe dadi nggrundel
Tiwas ngalah malah podo ngeyel
Bait di atas memberi pelajaran kita semua agar selalu menjadi orang yang baik dan berprasangka baik. Pantang menjadi orang yang syirik dan membuat kesal orang lain, agar terhindar dari perasaan dengki dan dendam. Hidup pastilah tak akan nyaman jika perasaan kita terus menerus dibayangi kekecewaan. Ingat, semua pasti ada jalan keluarnya, selesaikan dengan perlahan-lahan dengan saling mengalah. Keterbukaan hati dan pikiran akan mencairkan hati yang bergejolak.
Mulane kowe manuto wong tuo
Ojo pisan pisan koe neko-neko
Jaman saiki sithik-sithik metu ragat
Urip’e ora tentrem malah kowe dadi jepat
Bait di atas berisi pembelajaran yang seringkali diberikan oleh orang tua kita. Selalu menurut kepada perkataan dan kehendak orang tua, menyikapi segalanya dengan bijak, serta tidak bertingkah yang dapat mengecewakan orang tua. Terlebih bagi kita yang statusnya masih menjadi anak asuh, dimana semua kebutuhannya orang tua kitalah yang menanggung. Semua membutuhkan modal yang diperoleh dari kerja keras orang tua. Jangan sampai hidup kita tidak bahagia hanya karena perbuatan konyol yang seharusnya tidak kita lakukan.
Mulakno mulakno, rasah do ngeyel
Tuwo-tuwo le ngandani angel
Bola bali bola bali kowe nglarani ati
Wong tuwomu kegowo ati
Ngalor ngidul ngulon wetan
Aku wis kenthir
Ora iso mikir
Kiwo kiwo
Kluer kluer
Bait di atas sejatinya ditujukan untuk mereka yang sudah keterlaluan telah mengecewakan orang tuanya. Ingatlah, jika kita durhaka kepada orang tua, keburukannya akan kembali kepada kita sendiri. Orang tua tentu tidak akan terima jika anaknya melakukan perbuatan yang mencemari nama orang tuanya. Orang tua yang telah menghidupi, mendidik, dan mengayomi kita dari lahir hingga sekarang seakan tidak berguna. Padahal, seburuk apapun anak seseorang, orang tua pasti tak akan pernah melupakannya. Semua beban batin akan selalu ditanggung sehidup semati. Marilah kita perbaiki cara berpikir dan sikap kita dalam memahami perasaan orang tua kita.
Semoga tulisan-tulisan di atas bisa menginspirasi kita semua. Tidak ada yang tidak baik sejauh kita bisa memahami lingkungan sekitar kita dengan berbaik sangka (positive thinking). :cendol

Minggu, 15 Februari 2015

All Of Me

All Of Me | John Legend

All Of Me - John Legend | Terjemahan Lirik Lagu Barat
What would I do without your smart mouth
Apa yang kan kulakukan tanpa mulut pintarmu

Drawing me in, and you kicking me out
Menghelaku, dan kau menendangku

Got my head spinning, no kidding
Kau buat aku pening, sungguh

I can't pin you down
Aku tak bisa membuatmu diam

What's going on in that beautiful mind
Apa yang terjadi di dalam pikiran yang indah itu

I'm on your magical mystery ride
Aku ada di dalam kendaraan misterimu yang ajaib

And I'm so dizzy
Aku sungguh pusing

Don't know what hit me
Tak tahu yang mengenaiku

But I'll be alright
Tapi aku kan baik-baik saja


II
My head's underwater
Kepalaku di dalam air

But I'm breathing fine
Tapi aku bisa bernafas tanpa kesulitan

You're crazy and I'm out of my mind
Kau gila dan aku tak waras


III
Cause all of me
Karena sepenuh diriku

Loves all of you
Mencintai sepenuh dirimu

Love your curves and all your edges
Kucinta lengkungan dan semua tepimu

All your perfect imperfections
Semua ketaksempurnaanmu yang sempurna

Give your all to me
Berikanlah sepenuh dirimu padaku

I'll give my all to you
Kan kuberikan sepenuh diriku padamu

You're my end and my beginning
Kaulah akhir dan awalku

Even when I lose I'm winning
Meski saat kalah pun aku menang

Cause I give you all of me
Karena kuberikan sepenuh diriku padamu

And you give me all of you, oh
Dan kau berikan sepenuh dirimu padaku


How many times do I have to tell you
Berapa kali harus kukatakan padamu

Even when you're crying you're beautiful too
Meskipun saat menangis kau tetaplah cantik

The world is beating you down
Dunia ini mengecilkan hatimu

I'm around through every mood
Aku kan selalu ada

You're my downfall, you're my muse
Kaulah kehancuranku, kaulah lamunanku

My worst distraction, my rhythm and blues
Gangguan terburukku, ritme dan bluesku

I can't stop singing,
Aku tak bisa berhenti bernyanyi,

It's ringing in my head for you
Selalu terngiang senandung di kepalaku untukmu


Back to II, III

Cards on the table, we're both showing hearts
Kartu di meja, kita berdua kan tunjukkan gambar hati

Risking it all, though it's hard
Pertaruhkan segalanya, meski berat terasa


Back to III

I give you all of me
Kuberi kau sepenuh diriku

And you give me all, all of you, oh
Dan kau beri aku sepenu dirimu, sepenuh dirimu, oh


http://dapurmusik.com/wp-content/uploads/2014/08/john-legend-fb.jpg 

Senin, 12 Januari 2015

RENUNGAN ILIR-ILIR (Oleh Cak Nun)

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh?
Bisakah kekecewaan bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis?
Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam?
Akankah api akan berkobar-kobar lagi?
Apakah asap akan membumbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air?
Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain?
Jarah menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan?
Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani?
Bersediakah kita sebenarnya untuk tahu persis apa yang sesungguhnya yang kita cari?
Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita?
Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar?
Pernahkah kita mencoba menyesali?
Hal-hal yang barang kali perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin?
Bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian di balik kebanggaan-kebanggaan?
Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk berkata pada diri kita sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka?
Bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia tetapi juga kita.
Masih tersediakah peluang di dalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan meskipun barang kali menyakitkan diri kita sendiri?
Mencari hal-hal yang kita benar-benar butuhkan agar supaya sakit (3x) kita ini benar-benar sembuh total.
Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomer satu bukan yang diluar diri kita tetapi di dalam diri kita.
Yang kita perlu utama lakukan adalah penyembuhan diri, yang kita yakini bahwa harus betul – betul disembuhkan itu justru adalah segala sesuatu yang berlaku dalam hati dan akal fikiran kita...
 
http://sinarbaskoro.files.wordpress.com/2010/03/fb5.jpg
Saya ingin mengajak engkau semua untuk memasuki dalam dunia ilir-ilir
Lir ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro
Dodot-iro dodot-iro lumintir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung jembar kalangane
Mumpung padang rembulane
Yo surako
Surak: iyooo!
 
http://saptadi.net/files/2012/10/DSC_0137.jpg
Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar :
Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur pada kita tentang kita. Tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri namun tak kunjung kita sanggup untuk mengerti. Sejak lima abad yang silam syair itu telah ia lantunkan dan tak ada jaminan kita telah paham. Padahal kata-kata beliau itu mengeja kehidupan kita sendiri alfa, beta, alif, ba', tha' kebingungan sejarah kita dari hari ke hari. Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya terletak pada ketidak sanggupan para penghuninya untuk megakui betapa kerusakan itu sudah tidak terperi
Menggeliatlah dari matimu tutur sang sunan, siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu sungguh negeri ini adalah penggalan sorga. Sorga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan dan keindahannya dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia raya. Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan. Tidak mungkin kau temukan makhluk tuhanmu kelaparan di tengah hijau bumi kepulaan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Bahkan bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai negeri-negri lain yang manapun. Tapi kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini kita telah memboroskan anugerah tuhan ini melalui cocok tanam ketidak adilan dan panen-panen kerakusan
Cah angon - cah angon penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo mbasoh dodot-iro
Kanjeng sunan tidak memilih figur misalnya pak jendral, juga bukan intelektual-intelektual, ulama-ulama, sastrawan-sastrawan atau senian-seniman atau apapun tapi cah angon (2x). Beliau juga menuturkan penekno blimbing kuwih, bukan penekno pelem kuwih, bukan penekno sawuh kuwih, juga bukan buah yang lain tetapi blimbing bergigir lima terserah apa tafsirmu mengenai lima yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu lunyu-lunyu penekno agar belimbing bisa kita capai bersama-sama. Dan yang harus memanjat adalah bocah angon anak gembala, tentu saja boleh siapa saja, ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kyai, boleh seorang jenderal atau siapapun. Tapi dia harus mempunyai daya angon, daya untuk menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong siapa pun, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan dan semua kecenderungan. Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan. Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini sang bocah angon harus memanjatnya harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya bukan ditebang, dirobohkan atau diperebutkan dan air sari pati belimbing lima gigir itu diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya berdirilah di depan pasar dan copotlah pakaianmu maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima

Dodoth-iro dodoth-iro kumitir bedah ing pinggir, dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane yo surako - surak iyooo
Pakaian kebangsaan kita, harga diri nasionalime kita, telah sobek-sobek oleh tradisi penindasan, oleh tradisi kebodohan, oleh tradisi keserakahan yang tidak habis-habis. Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore, harus kita jahit kembali, harus kita benahi lagi, harus kita utuhkan kembali agar supaya kita siap untuk menghadap ke masa depan. Memang kita sudah lir-ilir, sudah ngelilir sudah terbangun dari tidur, sudah bangun, sudah bangkit sesudah tidur terlalu nyenyak selama 30 tahun atau bahkan mungkin lebih lama dari itu. Kita memang sudah bangkit beribu-ribu kaum muda berjuta-juta rakyat sudah bangkit keluar rumah dan memenuhi jalanan, membanjiri sejarah dengan semangat menyeruak kemerdekaan yang telalu lama diidamkan. Akan tetapi mungkin karena terlalu lama kita tidak merdeka sekarang kita tidak begitu mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan sehingga tidak begitu paham beda antara demokasi dan anarki. Terlalu lama kita tidak boleh berfikir lantas sekarang hasil fikiran kita keliru-keliru sehingga tak sanggup membedakan mana asap mana api, mana emas mana loyang mana nasi dan mana tinja. Terlalu lama kita hidup dalam ketidak menentuan nilai lantas menjadi semakin kabur pandangan kita akan nilai-nilai yang berlaku dalam diri kita sendiri sehingga yang kita jadikan pedoman kebenaran hanyalah kemauan kita sendiri, nafsu kita sendiri, kepentingan kita sendiri. Terlalu lama kita hidup dalam kegelapan sehingga kita tidak mengerti melayani cahaya sehingga kita tidak becus mengurusi bagaimana cahaya terang sehingga dalam kegelapan gerhana rembulan yang membikin kita buntu sekarang kita junjung-junjung pengkhianat dan kita buang para pahlawan. Kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan.
Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita. Matahari berada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai karena ditutupi oleh bumi sehingga bulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi. Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan. Rembulan adalah para keasih Allah, para nabi, para rasul, para ulama, para cerdik-cendikia, para pujangga dan siapapun saja yang memantulan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas. Orang menyangka kepala adalah kaki, orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.
Ilir-ilir, kita memang sudah ngelilir, sudah bangkit, sudah bangun bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari namun akal fikiran kita belum, hati nurani kita belum, kita masih merupakan anak dari orde-orde yang kita kutuk di mulut namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup di dalam darah dan jiwa kita. Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik, kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berusaha untuk menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara syetan yakni dengan cara melarangnya untuk insyaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara meggusur. Kita menolak pemusnahan dengan cara merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana cara iblis yakni kita halangi untuk memperbaiki diri. Siapakah selain iblis, syetan dan dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia yang memblokade pintu surga, yang menyorong mereka ke pintu neraka. Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas. Sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah diancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan.

Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan-kebersamaan melainkan asyiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan parasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan untuk memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri. Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang akan mempergelap cahaya matahari sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya. Atau kita akan berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat agar kita bisa apatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itukembali ke bumi.

Satu tembang tidak selesai ditafsirkan dengan 1000 jilid buku. Satu lantunan syair tidak selesai ditafsirkan dengan 1000 bulan dan seribu orang melakukannya. Aku ingin mengajakmu untuk berkeliling utuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dengan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing. Agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita, apa muatan kalbu mereka mengenai lir-ilir, mengenai ijo royo-royo, mengenai tementen anyar, mengenai bocah angon dan belimbing, mengenai mbasuh dodotiro dan mengenai gumitir bedah ing pinggir.
Yang akan kita bicarakan tentu saja kapan saja bersama-sama.tapi aku ingin mengajakmu untuk mendengarkan siapa saja diantara sauara-saudara kita tanpa perlu kita larang-larang untuk menjadi ini-untuk menjadi itu. Asalkan kita bersepakat bahwa bersama-sama mereka semua kita akan menyumbangkan yang terbaik untuk semuanya bukan hanya bagi ini-bagi itu bukan hanya bagi yang disini atau yang disana...
 

Jumat, 02 Januari 2015

Alones

Oreta awai tsubasa
Kimi wa sukoshi Aosugiru sora ni tsukareta dake sa
Mou dareka no tame ja nakute
Jibun no tame ni waratte ii yo
― Melipat sayap pucat
― Kau hanya sedikit lelah di langit terlalu biru
― Kau tak perlu tersenyum untuk orang lain
― Tak apa tersenyum hanya untuk dirimu sendiri

Izen to shite shinobiyoru kodoku
Uchigawa ni tomoru rousoku
Nigiwau ba ni gouka na shanderia to wa urahara ni
― Karena aku kesepian seperti sebelumnya,
― Sebuah lilin menyala di dalam sebuah pesta ramai
― Bertentangan dengan tempat lilin yang mewah


Tarinai kotoba no
Kubomi o nani de umetara ii n’ darou
Mou wakaranai yo
― Aku tak cukup memiliki kata-kata
― Aku heran, apa yang harus aku isi dalam kekosongan?
― Aku tak tahu lagi


Semete yume no naka de
Jiyuu ni oyogetara anna sora mo iranai no ni
Kinou made no koto o
Nuritsubusa nakute mo asu ni mukaeru no ni
― Setidaknya di dalam mimpi
― Kita bisa berenang bebas, tak perlu langit lagi
― Meskipun jika aku tak bisa mengisinya sampai kemarin,
― Aku masih berharap menyambut hari esok


Oreta awai tsubasa
Kimi wa sukoshi Aosugiru sora ni tsukareta dake sa
Mou dareka no tame ja nakute
Jibun no tame ni waratte ii yo
― Melipat sayap pucat
― Kau hanya sedikit lelah karena langit terlalu biru
― Kau tak perlu tersenyum untuk orang lain
― Tak apa tersenyum hanya untuk dirimu sendiri


Rettoukan to no wakai wa
Kantan ni wa kanawanaisa
Jiishiki no teppen ni suwaru
Kagami ga utsusu hanabira
― Penyelesaian dengan rasa rendah diri
― tak mudah untuk terwujud
― Cermin itu yang tersisa
― di atas kesadaran diri yang mencerminkan kelopak bunga


Furishiboru you ni
Kogoreta ai wo sakende miru keredo
Modokashikute
― Untuk memanggil
― Aku mencoba berteriak namun cinta itu rumit
― ini menyebalkan


Meguru toki no naka de
Kizuguchi wa yagate
Kasabuta ni kawatte iku
Kimi wa sore o matazu
Totemo utsukushiku
Totemo hakanage de
― Dalam waktu yang terus berputar,
― Akhirnya luka berubah menjadi keropeng
― Kau tak menunggu untuk itu,
― Kau begitu indah, dan begitu rapuh


Hagare ochita ato no
Ubuge no you ni
Hi damari no naka de furueru inori
Ima wa muri ni dareka no koto wo
Ai sou to omowanakute ii no ni
― Doa gemetar di bawah sinar matahari,
― seperti terkelupas setelah kalah
― Tak apa untuk kau tak berpikir mencintai seseorang secara terpaksa sekarang


Toki ni kono sekai wa
Ue wo muite
Aruku ni wa sukoshi mabushii sugiru ne
Shizumu you ni
Me wo fuseru to
Kawaita chimen ga namida wo susuru
― Terkadang dunia ini sedikit terlalu menyilaukan
― berjalan menatap ke atas
― Ketika aku melihat ke bawah,
― seraya tenggelam, tanah telah kering mengisap air matamu


Why do we feel so alone anytime?
Subete wo uketomenakute ii yo
Why do we feel so alone anytime?
Koraeru koto dakedo
Yuuki ja nai
― Mengapa kita merasa sendirian kapanpun?
― Kau tak harus mengambil segalanya
― Mengapa kita merasa sendirian kapanpun?
― Hanya bisa melawan kembali bukanlah keberanian 
 
 
 
 
 
 
 


 

  

DELUHI -HOSHI NO NAI YORU NI

Ano goro no futari wa shin da n da yo donna ni omotte mo
[kita berdua sudah mati sejak waktu itu,tidak perduli bagaimana kita bisa berpikir kembali]
mou kaerenai kaerarenai koto dakeredo nando mo
[kita tidak bisa kembali lagi,hal yang tidak dapat dikembalikan...So many times*]
saezuru kaze mo kaoru komorebi mo subete wa ano
Nichi kara irozuke kidashita ikudo to kisetsu kanji rareru yo
[hembusan angin,sinar matahari yang harum diantara pepohonan.Sejak hari itu semua telah berubah warna,aku bisa merasakan begitu banyak musim]
tada sou na anata ga inai
[tapi kau tidak ada di sisiku]
soshite boku wa mata aruki dasu sou
[dan sekali lagi aku berjalan lurus]
anata no owari wo se ni
[karena akhirmu dalam latar belakangku]
chiisa na negai zutto oboeteiru kara
[aku akan selalu ingat permintaan kecil itu]
egao de iru kara
[karena ada wajah yang tersenyum]
todoke futari wo tsunagu
hoshi no nai yoru ni
[jadi sampaikanlah pada malam tanpa bintang ini untuk mengikat kami berdua]
Atarimae no hibi ga arifureta yorokobi ga kagayaite miete
[hari-hari yang biasa kebahagiaan yang biasa tampak bersinar]
mou modorenai modorarenai koto dakeredo nando mo
[kita tidak bisa kembali lagi hal yang tidak bisa dikembalikan...So many times*]
ima furetai mou ichido furetai
[sekarang aku ingin menyentuhmu,sekali lagi menyentuhmu]
Shizuka ni me wo tojite mama no
[sunyi...aku bisa melihatmu dengan mata tertutup]
tsumetai hou ga yaseta karada ga
konna ni mo kanashii hodo utsukushii kara
[sentuhan tubuhmu yang ramping begitu indah hanya akan membuatku pilu]
soshite boku wa mata aruki dasu sou
[dan sekali lagi aku berjalan lurus]
anata no owari wo se ni
[karena dengan akhirmu dalam latar belakangku]
anata to no omoide sukoshi koko ni oiteiku kara
wasurenai you ni
[aku akan menempatkan sedikit kenanganku denganmu disini hingga aku tak akan pernah melupakannya]
i'll always love you
i'll always love you
ikiru to iu koto wa ushinau to iu koto
[hidup adalah untuk mati]
Anata mo boku mo
[baik kamu maupun aku ]
ikiru to iu koto wa ushinau to iu koto
[hidup adalah untuk mati]
dakara saigo ni tsutaetai
[jadi di akhir nanti ingin ku sampaikan padamu]
anata to tomo ni ikirete yokatta aa~
[aku bersyukur bisa hidup bersamamu]
tashika na akashi no naka de
[dalam bukti yang pasti]
sono koe to yawara kana egao to yobi au koto
[suara dan wajah yang tersenyum lembut itu saling memanggil satu sama lain]
Mou dekinai keredo
[meski tak dapat kembali lagi]
soshite boku wa mata aruki dasu sou
[dan sekali lagi aku berjalan lurus]
anata no owari wo se ni
[karena dengan akhirmu dalam latar belakangku]
chiisa na negai zutto oboeteiru kara
[aku akan selalu ingat permintaan kecil itu]
egao de iru kara
[karena ada wajah yang tersenyum]
todoke futari wo tsunagu hoshi no nai yoru ni
[jadi sampaikanlah pada malam tanpa bintang ini untuk mengikat kami berdua]


sadness and sorrow

I don't know
Aku tidak tahu
What I did to
Apa yang harus kulakukan untuk
Deserve so much of this pain
Menerima begitu banyak rasa sakit

Now I see,
Sekarang aku tahu
I can show them,
Aku dapat menunjukkan pada mereka
I really have a heart.
Aku benar-benar memiliki hati

In this world at first I was alone,
Pada awalnya ku merasa kesepian di dunia ini
Why am I so disliked?
Kenapa aku begitu tak disukai
What is this feeling inside?
Perasaan apa ini
feelings so unreal
Terasa begitu hampa

A feeling so, so sad
Aku benar benar sedih
but I still have my friends,
Tapi aku masih memiliki teman-teman
you're not always alone...
Kau tak akan selalu sendiri
never give up your hope
Jangan pernah menyerah akan harapanmu 

"Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu"